PANARAGAN (translampung.id)– Lagi-lagi, tumpukan Sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Pasar Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, tepatnya di Pasar Panaragan Jaya, terlihat menggunung hingga meluber dan berserakan ke badan jalan.
Akibatnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tubaba harus bekerja keras dan kewalahan menangani tumpukan Sampah tersebut, yang notabenenya Sampah-sampah itu justru banyak disumbang dari warga atau Sampah rumah tangga.
Saat dijumpai media di lokasi TPS, Kepala DLH Tubaba melalui Kepala Bidang Sampah dan Limbah B3, Hartawan, sangat prihatin dan menyayangkan kondisi tersebut karena rendahnya kesadaran dari masyarakat bahkan termasuk para Oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diduga banyak membuang Sampah sembarangan di TPS Pasar.
“Kalau kita melihat tumpukan Sampah di TPS ini 70 persen bukan Sampah Pasar, melainkan banyak Sampah rumah tangga. Dan beberapa pedagang serta masyarakat setempat juga mengaku melihat warga diluar Pasar seringkali membuang Sampah rumah tangganya di TPS Pasar, bahkan ada juga Oknum ASN atau orang dinas yang membuang Sampahnya dengan melempar sembarangan dari mobil,” kata Hartawan, Kamis (04/05/2023).
Menurutnya, kondisi tumpukan Sampah yang bahkan sampai meluber dan berserakan ke badan jalan ini menyebabkan bau menyengat dan tentunya sangat mengganggu pengguna jalan, mengingat lokasi TPS berada tepat di belakang Pasar berdampingan dengan akses jalan alternatif warga dari area belakang menuju area Pasar.
“Selain Pasar Panaragan Jaya, Pasar Kabupaten Tubaba yang lainnya juga sering mengalami hal yang sama, seperti Pasar Mulya Asri, Pulung Kencana, dan terutama Pasar Dayamurni. Untuk itu, kami mengimbau dan meminta kerjasama nya agar sama-sama kita menyadari untuk dapat menjaga kebersihan lingkungan khususnya di area Pasar,” jelasnya.
Dirinya juga meminta agar bagi Pedagang Pasar dapat melaporkan jika ada warga yang masih membuang Sampah sembarangan di area TPS Pasar, bahkan kalau bisa di foto. Apalagi jika itu Oknum ASN yang seharusnya memberi contoh yang baik, agar bisa ditindak tegas.
Hartawan menjelaskan, bahwa pihaknya sangat kewalahan mengatasi masalah Sampah di Kabupaten Tubaba ini jika masyarakat tidak bisa bekerja sama, apalagi mengingat armada yang dimiliki oleh pihaknya hanya ada 3 unit Mobil pengangkut, itu pun 1 diantaranya sudah rusak dan tidak bisa beroperasi.
“Kita ini kan mengangkut Sampah di seluruh TPS Pasar dan jalan protokol. Jadi untuk yang Sampah rumah tangga, kita berharap kedepannya setiap Tiyuh (Desa) atau Kelurahan dapat membuat TPS sendiri untuk warganya dan kerjasama dengan kita. Tetapi, memang kendala kita ini juga armada dan Sumber Daya Manusia (SDM) belum mencukupi, bahkan untuk gaji petugas kebersihan dan pemungut Sampah ini saja belum sesuai, mereka bekerja hingga malam hari dengan gaji sebulan hanya Rp.850 ribu, tentu ini sangat tidak sebanding dengan pekerjaan mereka, jadi kami benar-benar meminta kerjasama semua pihak dan saling mengerti,” ucapnya.
Sementara itu, menurut ibu Eva, Pak Maimun, dan pak Mulkan yang merupakan pedagang serta masyarakat di Pasar Panaragan Jaya, juga membenarkan bahwa Sampah yang menumpuk itu banyak dari Sampah rumah tangga.
“Kalau Sampah Pasar memang tidak sebanyak itu, karena kami lihat ada warga lain bahkan termasuk Oknum orang dinas juga sering buang Sampah di TPS, bahkan ada yang sampai bawa mobil pickup. Rata-rata mereka naik motor atau mobil, lalu melempar saja sembarangan di sekitar TPS, sehingga Sampah di TPS Pasar menumpuk dan berserakan. Oleh karenanya, tentu kami mendukung DLH jika memang harus diberi tindakan terhadap orang-orang yang membuang Sampah sembarangan, dan kami ucapkan juga terimakasih kepada DLH yang sudah terus bekerja keras dalam menangani masalah Sampah ini,” imbuhnya. (D/r)


















Discussion about this post