LAMPUNG UTARA – Bangunan geribik SDN 2 Sido rahayu kecamatan Abung Semuli yang viral diberitakan media, bukanlah bangunan yang sifatnya permanen, melainkan bangunan hasil swadaya masyarakat wali murid, yang antusias menyekolahkan anaknya disekolah tersebut.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Utara, Sukatno, menyikapi pemberitaan adanya sekolah geribik di desa Sido rahayu, Jum,at (11/8/2023)
Dikatakan Sukatno, kemarin kita langsung memerintahkan Kabid pembinaan SD Opi Riansyah, untuk mengecek secara menyeluruh, baik itu data dapodik sekolah, sampai dengan bangunan gedung yang telah rekan rekan media sampaikan.
Hasilnya, bahwa bangun itu bukanlah bangunan sifatnya permanen. Yang kami maksud bangunan itu adalah hasil swadaya masyarakat wali murid karena antusias untuk menyekolahkan anaknya disekolah tersebut.
” Nah, atas pertimbangan tersebut, maka wali murid atas inisiatif komite sekolah membuat lokal tambahan, yang diberitakan sekarang, itulah informasi dari Kabid pembinaan SD waktu turun kelapangan, tutur Sukatno
Dari hasil tersebut lanjut Sukatno, kita langsung mengarahkan operator sekolah melalui kepala sekolah untuk memperbaiki data dapodik sekolah tersebut.
Kalau kita lihat data dapodik nya itu bagus, tapi tidak terpantau dengan sistem, oleh sebab itu kita perintahkan, operator melalui kepala sekolah untuk segera memperbaiki data dapodik tersebut,
Dan untuk penambahan ruang belajar sekolah, kita akan maksimalkan, di tahun 2024 akan kita upayakan penambahan pembangunan ruang belajar di sekolah tersebut. Dan ini sudah kita laporkan kepada bapak pimpinan yaitu bupati dan wakil bupati melalui bapak sekda. Pungkasnya.
Sebelumnya ramai diberitakan, adanya sekolah dasar Negeri (SDN) berdinding geribik di kabupaten Lampung Utara luput dari pantauan.
Pasalnya, Sekolah Dasar Neger 2 Desa Sidorahayu Kecamatan Abung Semuli, yang sudah bertahun tahun lamanya, hanya memiliki lima ruang kelas, dua di antaranya jauh dari kata layak.
Dari pantauan awak media, Kamis (10/8/2023) Terlihat satu ruang kelas sunguh sangat memperhatikan, dengan berdindingkan geribik bambu yang hampir roboh dan jebol, serta ruangan belajar yang sangat tidak layak untuk mengikuti kegiatan belajar dan mengajar seperti sekolah pada umumnya. Sementara satu kelas lainya memakai gedung perpustakaan, dengan menggunakan meja kecil tanpa beralas tempat duduk, maupun kursi. (Ek)
















Discussion about this post