PANARAGAN (TransLampung.ID)-
Priliantiwi, wanita guru SDN 22 Tulangbawang Tengah, berhasil masuk dalam jajaran 15 penulis cerita rakyat Lampung melalui karya berjudul “Rahasia Las Sengok: Misteri di Hutan Larangan”. Karya tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian budaya Lampung melalui cerita rakyat yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal.
Buku ini diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap para penulis yang berkontribusi menjaga warisan budaya daerah.
Dalam proses penyusunan cerita, Priliantiwi tidak hanya mengandalkan kreativitas menulis, tetapi juga melakukan penggalian informasi dan konsultasi dengan berbagai pihak yang memahami sejarah, adat, dan budaya Lampung khususnya di Tubaba.
Selain menggali informasi dari tokoh adat dan budaya, Prilian Tiwi juga berkonsultasi dengan Bupati Tulangbawang Barat sejak 2014-2022, Umar Ahmad, SP, terkait nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal yang menjadi bagian penting dalam cerita tersebut.
Melalui pendekatan tersebut, “Rahasia Las Sengok: Misteri di Hutan Larangan” tidak hanya menghadirkan cerita yang menarik, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam serta melestarikan hutan sebagai bagian dari warisan kehidupan.
Cerita rakyat ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa hutan memiliki nilai penting yang harus dijaga bersama. Pesan pelestarian lingkungan menjadi salah satu kekuatan utama dalam karya yang mengangkat budaya Lampung tersebut.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tubaba, Rodianto,menyampaikan apresiasi atas capaian Priliantiwi. Menurutnya, karya sastra dan cerita rakyat memiliki peran besar dalam menjaga identitas daerah serta mewariskan nilai luhur kepada generasi penerus.
“Menulis adalah cara terbaik untuk menjaga jati diri dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Saya mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Priliantiwi yang telah mendedikasikan pikiran, waktu, dan kreativitasnya untuk mengangkat cerita rakyat kearifan lokal Tubaba” kata Rodi Kamis (30/7/2026).
Ia berharap lahirnya karya-karya berbasis budaya lokal dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus berkarya dan mendokumentasikan sejarah, tradisi, serta cerita daerah.
“Jangan pernah ragu untuk menuliskan cerita, sejarah, budaya, maupun tradisi daerah kita, karena setiap tulisan adalah warisan berharga yang akan dikenang sepanjang masa” Imbuhnya. (Dirman)



















Discussion about this post