PANARAGAN (TransLampung.ID)-
Pada Sabtu 5 September 2026 empat hari yang lalu. Gunung Anak Krakatau (GAK) menyemburkan abu setinggi 15 kilometer. Dari Selat Sunda, tempat di antara dua pulau paling padat penduduk di dunia Jawa dan Sumatra.
Secara logis, abu setinggi itu yang menyembur dari titik itu harusnya menimpa Jakarta, Banten, Lampung yang dipadati Jutaan orang. Namun, Kehendak allah diluar nalar manusia.
Yang terjadi malam itu, angin bertiup ke barat, menuju arah Samudra Hindia yang kosong. Bukan ke Jakarta. Bukan ke Sumatera. Bukan ke jutaan penduduk yang tidur di bawahnya. Siapa yang mengatur angin malam itu?
Tidak ada BMKG yang mampu mengendalikan arah angin, bukan juga teknologi yang membelokkan abu. Tentu, yang mengatur arah angin malam itu, hanyalah Allah s.w.t, tiada lain dan duanya.
Angin bukan sekadar fenomena cuaca. la adalah salah satu cara Allah bekerja diam-diam, tanpa diminta, melindungi jutaan orang yang bahkan tidak menyadarinya.
Ini adalah sesuatu yang sangat indah sekaligus sangat dalam. Allah sedang memberikan peringatan keras melalui Gunung Anak Krakatau. 240 kali letusan,
dentuman yang terdengar sampai Bandung, hingga langit berpendar merah di tengah malam.
Tapi di saat yang sama, Dia membelokkan abunya ke laut yang kosong. Peringatan yang keras. Tapi perlindungan tetap nyata. Inilah kasih sayang Allah yang paling sulit dipahami manusia.
Ia bisa menghukum dan melindungi dalam satu waktu yang sama. la juga mampu memperingatkan tanpa harus menghancurkan. Berapa banyak bencana yang hampir menimpa kita, yang Allah belokkan sebelum sampai, perlindungan yang paling besar adalah yang tidak pernah kita rasakan.
Gunung Anak Krakatau tidak erupsi tanpa alasan. Dan angin tidak membelok ke Samudra Hindia tanpa izin Allah. Keduanya berbicara tentang satu hal yang
sama. Allah masih memberikan kesempatan juga Peringatan keras, agar kita sadar atas perlindungan lembut yang ia berikan.
Gunung Anak Krakatau masih aktif. Abunya masih menyebar, dan Allah masih menunggu kita untuk pulang.
Mari kita renungkan bersama, angin yang membelok malam itu, bukan keberuntungan, itu adalah kasih sayang Allah yang bekerja diam-diam di tengah peringatan keras yang ia kirimkan untuk kita. Jangan sia-siakan kesempatan yang tersimpan di balik arah angin lembut Samudra Hindia. (Dirman)



















Discussion about this post