PANARAGAN (TransLampung.ID)-
Sabtu 5 September 2026, malam Ahad. Malam itu, abu letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) menyelimuti langit. Perlahan ia turun ke bumi, menyentuh halaman, atap rumah, hingga tanah tempat kaki berpijak.
Niat yang sejak sore kusimpan untuk bertandang di kediaman kerabat akhirnya ku urungkan. Bukan karena tidak ingin datang, tetapi mata terasa pedih setiap kali mencoba keluar rumah.
Barangkali malam ini aku memang diminta untuk tinggal lebih lama di rumah, duduk dalam kesunyian, dan belajar membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui alam.
Berteman secangkir kopi di meja, kubiarkan malam berjalan perlahan. Sesekali kubuka gawai, membaca berita tentang letusan yang sejak malam sebelumnya cukup kuat mengguncang perhatian banyak orang.
Media sosial pun riuh. Beragam berita datang silih berganti, sementara di luar rumah abu terus berjatuhan.
Seketika aku memandang ke arah langit. Ada sesuatu yang membuatku merenung.
Gunung yang selama ini tampak diam ternyata menyimpan tenaga yang begitu besar. Laut yang terlihat tenang juga menyimpan kedalaman dan kekuatan yang tidak sepenuhnya mampu kita pahami.
Mungkinkah ini pertanda dari Alam untuk kita, seperti sedang membuka sedikit tirai dibalik rahasianya.
Disini penulis tidak bermaksud untuk menakut-nakuti manusia, tetapi mungkin lebih mengingatkan bahwa bumi tempat kita tinggal bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Sejenak kubuka ayat-ayat Tuhan tentang laut dan gunung. Dalam Surah At-Tur ayat 6, Allah berfirman
“Demi laut yang dipanaskan”.
Kemudian dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 5–6,
“Dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya, lalu menjadi debu yang beterbangan.”
Ku membaca ayat itu perlahan. Tidak ingin terburu-buru mencari hubungan antara setiap kejadian alam dengan sebuah pertanda. Sebab alam memiliki hukum-hukumnya, dan manusia diberi akal untuk mempelajarinya.
Namun semakin kubaca, semakin terasa kecil diriku di hadapan keluasan ciptaan-Nya. Gunung mengajarkan tentang keteguhan, dan Laut mengajarkan tentang kedalaman.
Sementara, Abu mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak kokoh pun pada akhirnya dapat berubah menjadi debu. Kita hanya sedang menjalani sedikit waktu di antara lahir dan kembali.
Sesekali kopi mulai kuseruput untuk menghangatkan tubuh. Di luar, abu masih turun perlahan. Di dalam rumah, malam semakin sunyi. Tetapi justru dalam kesunyian itu, hatiku terasa ramai oleh perenungan.
Betapa sering kali manusia merasa kuat hanya karena memiliki harta, jabatan, ilmu, dan segala sesuatu yang berada dalam genggamannya.
Padahal satu letusan gunung saja sudah cukup untuk mengingatkan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan manusia.
Malam ini aku kembali percaya bahwa firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Dan mungkin tidak semuanya harus segera kita pahami.
Ada yang menjadi pelajaran bagi akal, ada yang menjadi peringatan bagi hati, dan ada yang baru akan kita mengerti ketika waktunya tiba.
Dari peristiwa ini Aku hanya ingin menjadi manusia yang mau mendengar. Mendengar suara alam tanpa mengabaikan ilmunya. Membaca ayat Tuhan tanpa merasa paling tahu maknanya. Bahkan melihat setiap peristiwa dengan hati yang lebih tunduk.
Abu malam ini akhirnya bukan sekadar debu yang jatuh dari langit. Tapi Ia menjadi pengingat berharga bagiku.
Bahwa kita hidup di bumi yang indah, tetapi tidak selamanya tenang, kita memiliki kehidupan tetapi tidak selamanya panjang, dan apapun yang telah Tuhan firmankan, pada waktunya akan menemukan kebenarannya.
Abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau yang jatuh perlahan mengajarkan hati tentang satu hal sederhana.
Manusia boleh merasa kuat, tetapi di hadapan kebesaran Tuhan, kita tetaplah seorang hamba. (Dirman)



















Discussion about this post