Lampung Utara, Translampung.Id — Miris, dua balita kakak adik Dwi Oktaviano (6) dan Brayen (3), Di desa Gunung Raja, Kecamatan Sungkai Barat kabupaten Lampung utara mengalami Tetraparese tipe spastik, Cerebral Palsy (GED) gizi buruk dengan perawakan pendek.
Wahyudi orang tua dari dua balitaDwi Oktaviano (6) dan Brayen (3) harus berjuang keras dengan kondisi seadanya demi kesembuhan anaknya
Kedua anak Wahyudi didiagnosa mengalami Tetraparese tipe spastik, Cerebral Palsy (GED) gizi buruk, Kondisi ini disampaikan langsung oleh dokter spesialis anak RSUD Mayjend H.M. Ryacudu, Kotabumi, dr. Indra.
Menurut dr. Indra, pasien datang dengan kondisi gangguan gerak pada anggota tubuh bagian bawah.
“Pasien baru bisa tengkurap sejak usia 6 bulan, dan tidak ada kemajuan perkembangan sampai sekarang. Dengan status imunisasi yang tidak lengkap, anak saat ini di-assessment Tetraparese tipe spastik, Cerebral Palsy (GED), gizi buruk perawakan pendek, imunisasi inkomplet,” ujar dr Indra, Rabu 26 November 2025.
Pasangan Wahyudi dan Eka Sari yang tinggal di rumah sederhana menjadi gambaran nyata perjuangan keluarga kurang mampu ketika menghadapi cobaan berat. Kondisi kedua anak mereka yang memburuk membuat keduanya harus menjalani perawatan intensif di RSUD Ryacudu, bahkan berpotensi dirujuk ke rumah sakit dengan pelayanan khusus.
Meski serba kekurangan, Wahyudi tetap berusaha membawa kedua anaknya berobat. Ia mengaku hanya dapat sampai ke rumah sakit berkat bantuan kerabat, karena tidak memiliki uang sepeser pun untuk bekal selama mendampingi dua anaknya menjalani perawatan.
Walau biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, kebutuhan harian selama di rumah sakit tetap menjadi beban berat. Pekerjaannya sebagai buruh serabutan terpaksa ditinggalkan demi fokus merawat anak-anaknya, menyebabkan pemasukan keluarga terhenti total.
Dengan mata berkaca-kaca, Wahyudi menceritakan kondisi kedua buah hatinya.
“Anak saya dua-duanya tidak bisa jalan, tidak bisa apa-apa. Dari umur 6 bulan sampai sekarang—yang satu sudah 6 tahun, yang satu 3 tahun,” tuturnya dengan suara terbata.
Ia juga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan susu untuk anak-anaknya.
“Berat kalau harus beli susu. dokter bilang butuh asupan gizi supaya berat badan mereka naik, tapi saya tidak punya uang,” ucapnya lirih.
Dalam kondisi sulit ini, dukungan masyarakat sangat dibutuhkan, baik secara moral maupun finansial, untuk membantu keluarga kecil ini bertahan.
Wahyudi berharap adanya perhatian dari Pemerintah Daerah dan para dermawan. “Bapak Bupati Harmatoni dan Pak Romli, mohon bantu saya, Pak. Dan para dermawan yang bisa membantu anak-anak saya,” harapnya penuh getir.(Ek)

















Discussion about this post