PANARAGAN (translampung.ID)– Langit Madinah malam itu bertabur bintang. Di dalam rumah kecil yang sederhana, cahaya lentera memantul hangat di wajah Baginda Rasulullah s.a.w yang sedang mengayun-ayun pelan seorang bayi mungil dalam pelukannya.
Bayi itu adalah Husain bin Ali cucu tercintanya, putra dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
“Ya Allah, bisik Nabi pelan sambil menciumi ubun ubun Husain, Ini adalah bagian dari hatiku, darahku dan
dagingku” kutip translampung.ID dari laman kalamilahi.
Fatimah berdiri di samping beliau, tersenyum sambil menatap sang ayah dan anaknya. Tapi senyum itu tak berlangsung lama, karena air mata mulai menetes dari sudut mata Rasulullah
“Ayah… mengapa engkau menangis?” tanya Fatimah, suaranya menggetar. Rasulullah memandang Fatimah, lalu menjawab dengan lirih.
“Jibril datang kepadaku hari ini. la bawa tanah dari sebuah tempat bernama Karbala…dan ia katakan, bahwa di sanalah anak ini akan wafat”
Fatimah terdiam. Tanah berwarna merah yang diletakkan di kain putih tampak begitu nyata. Tangan Fatimah bergetar saat menyentuhnya.
“Ayah… tidak mungkin umat ini.. yang engkau ajari
dengan cinta dan air mata. akan membunuh anakku.
Rasulullah memeluk Husain erat, dadanya bergetar.
“Wahai Fatimah, aku pun berharap begitu. Tapi takdir telah ditulis. Umat ini akan diuji. Dan ujian itu adalah darah anakmu”
Husain kecil tumbuh menjadi anak yang lembut dan pemberani. la sering naik ke punggung Rasulullah saat sujud. Bahkan di atas mimbar, Rasulullah kadang memangku Husain dan Hasan, dan berkata dengan lantang.
“Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda
surga. Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah orang yang mencintai mereka”
Para sahabat tersenyum melihat kelucuan mereka, tetapi di mata Rasulullah ada bayang kesedihan. Kadang, ketika Husain memeluk leher beliau, air mata jatuh diam-diam ke pipinya.
Rasulullah sedang sujud panjang, begitu lama hingga
para sahabat mengira beliau wafat. Ketika mereka mengintip, ternyata Husain kecil sedang duduk di punggung beliau.Setelah shalat selesai, sahabat bertanya,
“Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak bangkit dari
sujud tadi?”
Rasulullah tersenyum pahit.
“Cucuku sedang bermain di punggungku. Aku tidak ingin membuatnya jatuh. Karena akan datang hari di mana ia akan jatuh dari punggung kuda, dengan darah membasahi bumi, semua terdiam.
Malam itu, setelah semua tertidur, Rasulullah bangkit dari pembaringannya. la mendatangi kamar Fatimah, lalu duduk di sisi ranjang kecil Husain yang sedang tidur. Beliau menyentuh pipi kecil itu, seraya berbisik.
“Wahai cucuk, andai kau tahu, aku lebih ingin tubuh ini yang dipotong-potong daripada tubuhmu. Tapi Allah telah memilihmu untuk menjadi lentera bagi umat setelahku. Karbala menunggumu, Husain. dan aku tidak akan ada di sana untuk melindungimu”
Tangisan Rasulullah pecah. la menangis seperti seorang ayah yang tahu anaknya akan pergi ke medan yang tak bisa dicegah. Di balik pintu, Fatimah menyaksikan itu dalam diam. Air matanya jatuh, tanpa suara.(D)


















Discussion about this post