PANARAGAN (TransLampung.ID)– Pulau Sumatera mendadak tenggelam dalam gelap. Jumat malam sekitar pukul 18.44 WIB, listrik padam serentak di berbagai wilayah mulai dari Riau, Sumatera Utara, Aceh, Jambi, Lampung hingga Sumatera Barat.
Tidak sedikit aktivitas warga lumpuh, jaringan komunikasi terganggu, dan sebagian kota berubah menjadi “zona gelap” hanya dalam hitungan menit.
Ironisnya, blackout massal terjadi di tengah gencarnya narasi pembangunan dan modernisasi energi nasional, blackout massal ini justru memunculkan tamparan keras bagi sistem kelistrikan Indonesia.
Publik mempertanyakan: bagaimana mungkin satu gangguan transmisi bisa membuat separuh Sumatera kolaps?
PLN mengakui terjadi pemisahan sistem antara Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah. Dugaan awal mengarah pada gangguan transmisi 150 kV dan masalah pembangkit, bahkan muncul informasi bahwa jalur SUTET Lubuk Linggau–Lahat diduga tersambar petir.
Namun bagi masyarakat, alasan teknis saja tidak cukup. Banyak yang mulai menyoroti lemahnya sistem cadangan dan minimnya antisipasi terhadap gangguan besar. Jika satu sambaran petir saja bisa memicu blackout lintas provinsi, seberapa kokoh sebenarnya infrastruktur listrik nasional?
Di Pekanbaru dan sejumlah daerah lain, warga sempat panik akibat padamnya lampu jalan, internet, hingga layanan elektronik. Aktivitas usaha terganggu, rumah sakit bersiaga menggunakan genset, dan arus lalu lintas di beberapa titik mengalami kekacauan.
Insiden ini kini bukan sekadar pemadaman biasa. Blackout Sumatera berubah menjadi simbol peringatan keras bahwa fondasi energi nasional masih menyimpan banyak kerentanan.
Ketika pemerintah bicara soal hilirisasi, investasi raksasa, dan mimpi menjadi kekuatan ekonomi dunia, rakyat justru bertanya sederhana. Mengapa listrik saja masih bisa padam massal? (Dirman)


















Discussion about this post