Dr Eng IB Ilham Malik
Saya tertegun dengan pernyataan Dr. Parag Khanna dalam forum ULI Spring Meeting 2022. Ia mengatakan bahwa ada trend perubahan penduduk masa depan berbeda dengan fenomena saat ini. Kedepan, akan banyak penduduk yang single, childless dan not loyal to their own country. Sebagai peneliti di FutureMap dan penulis buku Connectography: Mapping the Future of Civilization tentu saja ia memiliki segudang alasan soal itu. Meskipun, tentu saja ia cenderung men-generalisir.
Tapi ia berhasil men-stimulan beberapa peneliti untuk melakukaan telaah lebih dalam tentang kondisi kependudukan tiap negara di masa depan. Tentu, ia tak bisa dipisahkan dari budaya dan ekonomi. Pola kehidupan masyarakat masa depan sangat penting diketahui. Bahkan lebih dari itu, ia juga harus bisa dipahami dan bahkan di-setting. Itulah sebabnya, dengan segala kelemahannya, jargon revolusi mental menjadi ada pembenarannya. Perwujudannya tentu by process dan semua membutuhkan waktu.
Tetapi yang jelas, akan semakin banyak penduduk yang tinggal di dalam kota. Pada 2050 akan ada 70% penduduk dunia tinggal dalam wilayah yang disebut dengan “kota”. Kota ini bisa diartikan kota secara administrasi tetapi ia bisa juga diartikan dalam wujud fisik kota. Disitulah kita membutuhkan penguatan pemahaman fenomena, melahirkan konsep antisipatif dan melembagakan penanganan agar pertumbuhan penduduk yang bermukim di “kota” menjadi berkah bagi sesama dan bagi lingkungan.
Budaya penduduk masa depan membutuhkan bentukan dari pemerintah. Bukan mendikte tetapi membatasi agar tidak keluar dari pakem ke-Indonesiaan. Budaya yang baik akan melahirkan interaksi manusia Indonesia yang berke-Indonesiaan, ber-adab dalam perilaku dan tutur kata. Dan pada akhirnya, kota akan menjadi lebih manusiawi karena manusia kota memiliki ke-adab-an yang tepat dengan konsensus manusia Indonesia masa depan.
Kota metropolitan yang berke-adab-an pun akan terbentuk. Karena penduduk kota semakin banyak, lalu kota-kota pun membesar dan akhirnya malahirkan fenomena ke-metropolitan-an. Guna menjaga budaya kota yang humanis, maka dibutuhkan pembentukan karakter manusia Indonesia secara utuh dan komprehensif agas bisa adaptif dengan kondisi ke-geografi-an masa depan. Dunia pendidikan (di sekolah dan dirumah) akhirnya menjadi tumpuan dalam pembentukan karakter tersebut.
Pernyataan Khanna mungkin mewakili kegelisahannya. Tetapi ini juga bisa didorong oleh pihak tertentu yang akhirnya mengubah wujud fisik kota masa depan yang akan semakin melebar seiring dengan adanya tambahan krisis Covid19, yang ditengarai semakin membuat orang barat menginginkan rumah di atas lahan sendiri. Tidak berkomunal dalam gedung apartemen. Jika ini di-amini dan menyebar menjadi fenomena budaya hidup yang diadaptasi oleh manusia Indonesia masa depan, maka akan menjadi persoalan perkotaan, tata kelola, perumahan dan lingkungan yang semakin kompleks bagi pemerintah.
Dr Eng IB Ilham Malik – Kepala Pusat Riset dan Inovasi Smart Metropolitan & Growt Center (Purino Metropolitan) PTN Institut Teknologi Sumatera


















Discussion about this post