
TransLampung.ID Lampung Barat – Aksi Pendemo sempat memanas dengan Aparat penegak hukum disebabkan kekecewaan warga terhadap Panitia Pemilihan Peratin yang dinilai tidak netral.
Puluhan warga tersebut mengeluarkan kekesalannya dengan membakar ban mobil didepan Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan meminta agar kembali di gelarnya pemungutan suara.
Terlihat polisi yang berdatangan tersebut, menggunakan pakaian lengkap, berikut beberapa motor dan mobil water canon (mobil penyemprot air). Aksi pendemo yang kian anarkis melempari polisi dengan pelastik berisi air berlangsung selama 30 menit.
Penegak hukum sempat mengularkan tembakan peringatan dan penyemprotan air menggunakan mobil water canon ke arah pendemo yang lari berhamburan.
Hal tersebut merupakan simulasi yang digelar Polres Lampung Barat (Lambar) menjelang Pilpratin tahap I untuk 60 pekon di 15 Kecamatan, jatuh pada 23 Februari 2022 mendatang.

Dikatakan Kapolres AKBP, Hadi Saepul Rahman, dalam rangka mengantisipasi terjadinya kerusuhan pada Pilpratin, Polres menggelar simulasi pengamanan TPS yang dilaksanakan di Lapangan Pemkab setempat. Selasa (15/02/2022).
kegiatan ini dilakukan agar petugas yang dilibatkan dalam pengamanan Pilpratin mengetahui apa saja yang harus dilakukan apabila terjadi suatu hal seperti perampasan kotak suara serta masyarakat yang tidak puas dengan hasil pemilihan.
Menurutnya, ada empat sekenario situasi yang dilakukan pada saat pelaksanaan pemilihan, yakni situasi hijau, kuning, orange dan situasi merah. Situasi warna tersebut menggambarkan sebuah situasi mulai dari situasi aman hingga situasi terburuk pada saat pemilihan Peratin.
Pertama, situasi hijau dimana pelaksanaan Pilratin ini berjalan sesuai dengan aturan, dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan tahapan-tahapan dilaksanakan. Lalu, kuning merupakan situasi adanya pelanggaran Protokol Kesehatan Covid-19 yang dilakukan oleh masyarakat.
Ketiga, Orange dimana terjadi keributan di TPS yang disebabkan oleh adanya permasalahan pada saat penghitungan suara sehingga diperlukan pengamanan dari unsur Linmas dan TNI dan Polri. Keempat, Merah dimana akibat dari Pilpratin mengarah pada konflik sosial, sehingga bagaimana cara mengatasi agar tidak menimbulkan hal-hal yang lebih buruk terjadi pada pelaksanaan Pilpratin tersebut.
Dikatakannya lebih jauh, berdasarkan hasil perhitungan kerawanan, pihaknya akan menerjunkan sebanyak 250 personel dari Polri dan 60 personel dari satuan Brimob pada saat pelaksanaan Pilpratin serentak. “Kita juga telah berkoordinasi dengan Polda Lampung dan Polres Way Kanan, Lampung Utara dan Tanggamus untuk membantu back-up rayonisasi apabila terjadi eskalasi yang meningkat,” pungkasnya. (Safri)
















Discussion about this post