Lampung Utara, Translampung.Id – Proyek pembangunan gedung perpustakaan Kotabumi tahun 2024 yang menelan anggaran 1 miliar lebih, menyisakan bau tak sedap.
Aroma kecurangan dalam pembangunan perpustakaan daerah tahap 2 itu kian menyengat. Itu dikarenakan adanya dugaan pemalsuan tanda tangan tim PHO dalam dokumen serah terima sementara proyek tersebut.
Tim PHO adalah Tim Provisional Hand Over, yaitu panitia yang bertugas memeriksa dan melakukan serah terima sementara suatu proyek konstruksi dari kontraktor kepada pemilik.
Fungsi utamanya adalah memastikan pekerjaan telah selesai 100% sesuai kontrak, memeriksa kualitas hasil kerja, dan membuat berita acara serah terima sementara, yang menandai dimulainya masa pemeliharaan sebelum diserahkan secara final (FHO).
“Tanda tangan saya saja dipalsukan PHO-nya,” ucap mantan Ketua Tim PHO proyek tersebut, Aprizal, Senin 1 desember 2025.
Aprizal mengaku, awalnya tidak mengetahui jika tanda tangannya telah dipalsukan dalam dokumen tersebut. Informasi itu baru diketahuinya setelah ia dipanggil oleh pihak Badan Pemeriksa Keuangan terkait buruknya kualitas proyek perpustakaan itu.
Saat itu diperlihatkan berita acara serah terima sementara yang memuat nama berikut tanda tangannya.
“Saya tidak pernah merasa tanda tangan,” kata dia.
Aprizal tidak mengetahui siapa oknum yang menalsukan tanda tangannya itu. Ia tidak ingin menimbulkan fitnah karena menuduh tanpa bukti. Namun, persoalan ini sempat dipertanyakannya langsung dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek.
“Saya akan laporkan dugaan ini kepada inspektorat,” kata dia.
Terpisah, mantan Kepala Disperkimciptaru Lampung Utara, Erwin Syaputra mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya persoalan dugaan pemalsuan itu. Namun, ia menyarankan untuk menghubungi ke bidang cipta karya terkait persoalan ini.
“Saya tidak tahu,” ucapnya.
Sebelumnya, Pembangunan gedung perpustakaan daerah Lampung Utara yang menelan anggaran miliaran rupiah, diduga dikerjakan asal asalan.
Hal itu dilihat dari bagian dinding luar kiri bangunan yang diaci separuh, separuhnya lagi tidak, selain itu pemasangan batu alam dinding yang sepertinya asal jadi, sehingga terlihat tidak rapi dan sebagian sudah terlihat terlepas.
Ditambah lagi dengan kondisi toilet yang sepertinya dikerjakan seadanya, bahkan saat hujan tiba, atap gedung pun dikabarkan bocor.
” Memang seperti itu kondisinya saat kami terima dari Disperkimciptaru,” ucap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lampung Utara, Sri Mulyana, Senin 24 November 2025.
Ia mengatakan, selain mengenai kondisi dinding luar tersebut, atap gedung itu juga mengalami kebocoran saat hujan. Kondisi yang terjadi di gedung tersebut juga telah dipersoalkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Sudah jadi temuan BPK juga,” ujar dia.
Hal yang sama disampaikan, mantan Kepala Disperkim Lampung Utara, Erwin Syaputra yang membenarkan, kualitas bangunan perpustakaan tersebut pernah dipersoalkan oleh BPK perwakilan Lampung.
” Sudah, sudah ada audit BPK, pihak rekanan telah mengembalikan kelebihan bayar yang diwajibkan oleh pihak BPK. Kata Erwin. (Ek)

















Discussion about this post