Translampung.id, PALAS – Sejumlah masyarakat dari Desa Sukaraja dan Desa Tanjung Sari, Kecamatan Palas menggelar aksi unjuk rasa terhadap PT. Talun Jaya Abadi (TJA) yang disinyalir tidak pernah berkontribusi terhadap warga disekitar perusahan.
Menurut Imam Safi’i selaku Koordinator Lapangan (Korlap) aksi mngatakan keberadaan PT.Talun Jaya Abadi sejak depan tahun berdiri tidak pernah melibatkan masyarakat sekitar. Baik itu tenaga kerjanya, maupun bantuan sosial untuk warga.
“Hari ini kami bersama warga di dua desa menggelar unjukrasa, ada 7 tuntutan kami untuk PT.TJA. ini kami lakukan karena perusahan tersebut tidak pernah peduli terhadap keinginan warga,” ujar Imam Safi’i ditemui saat aksi di Lokasi PT. TJA yang berada di Dusun Semarang Desa Tanjung Sari Kecamatan Palas, Minggu (22/6/2025).

Dijelasakan Imam Safi’i 7 tuntutan itu yang pertama pihak PT.TJA segera mempekerjakan kembali karyawan yang telah di PHK hanya karena dia memakai alat untuk kepentingan warga membangun lapangan bola volly. Kedua, meminta pihak PT.TJA untuk memberhentikan kepala keamanan (AW) yang kerap sewang wenang terhadap karyawan dan warga.
Ketiga pihak PT.TJA untuk mempekerjakan warga sekitar tampa diskriminasi agat keberada PT.TJA berdampak pada peningkatan ekonomi warga.
Keempat, mempertanyakan tentang kelengkapan perizinan PT.TJA yang saat ini tampa ada izin dari warga sekitar. Kelima meminta pihak PT.TJA agar mengeluarkan bantuan sosial (CSR) untuk warga sekitar.
“Keenam memepermudah akses lalulintas warga yang memiliki lahan disekitar perusahan tanpa harus bersyarat.Dan terakhir, mempertayakan siapa saudara Tamam yang hingga dapat luluasa mengintervensi bahkan semua keputusan management di PTJA ada ditangan dia,” ungkap Imam yang diamini warga lainnya.
Setelah berorasi sekitar 1 jam, warga yang berunjukrasa yang mendapat pengawalan dari pihak kepolisan dan TNI, akhirnya mereka diterima saudara Tamam yang merupakan kepercayaan pihak PT TJA.

Tamam mengatakan bahwa dirinya seorang Anggota DPRD Lamsel dari Partai PDIP yang ingin membantu dan memfasilitasi apa yang menjadi keinginan warga terhadap perusahan.
“Saya ini anggota DPRD dari Partai PDIP, nanti aspirasinya akan saya sampaikan. Karena ini hari Minggu jadi besok saya sampaikan kepimpinan,” ucap Tamam.
Mendengar jawaban seperti itu, wargapun tidak percaya dan tetap akan menutup akses jalan masuk keperusahan hingga tuntutan mereka dipenuhi.
“Kalian tadi denger semua, bahwa saudara Tamam ini ngaku anggota DPRD bukan orang perusahan. Jadi untuk apa kita mediasi jika dia saja nggak mau mengakui kalau dia salah satu orang kepercayaan perusahan,” timpal Imam.


Karena tidak ada kesimpulan, akhirnya warga meninggalkan lokasi perusahan dan mengacam akan menggelar aksi yang lebih ramai lagi sambil menutup akses jalan dengan cara memblokir dan memasang portal.(Johan)
















Discussion about this post