CURAHKAN KREATIVITAS: Salah seorang WBP Lapas Kelas IIB Kotaagung, AL, tengah sepenuh hati mencurahkan kreativitasnya untuk melukis kursi berbahan baku drum bekas, sebagai salah satu proses pembinaan di dalam lapas sekaligus bernilai ekonomis. (Foto-foto: DOK HUMAS LAPAS KOTAAGUNG)
KREATIVITAS tak boleh terbatas. Harus luas, bahkan “menembus batas”. Kendati raga terkurung bui sebagai wujud penitensi atas kesalahan diri, para warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIB Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, terus mengasah keterampilan dan daya imaji. Tangan-tangan terampil para WBP “menyulap” drum-drum bekas menjadi kursi-kursi bergambar estetis. “Skill dewa” para WBP untuk mengkonkretisasi imajinasi seni rupa mereka, difasilitasi secara optimal oleh lapas setempat. Berikut penelusurannya.
A. Yogy Pratama, translampung.id/TANGGAMUS
BERAGAM cara dapat dilakukan untuk menyalurkan bakat dan keterampilan. Meski berstatus sebagai warga binaan pemasyarakatan — yang sering disebut narapidana (napi), mereka juga manusia yang berjiwa seni. Bahkan mungkin punya “skill dewa” yang tak dimiliki oleh warga negara di luar lapas. Untuk itu, Lapas Kelas IIB Kotaagung memfasilitasi dan mendukung penuh penyaluran bakat para WBP.
Kepala Lapas Kelas IIB Kotaagung, Beni Nurrahman, A.Md.I.P., S.H., M.H. mengatakan, sejatinya kreativitas merupakan salah satu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia. Anugerah berupa kreativitas itu, patut disyukuri, selalu diasah, juga senantiasa dikembangkan. Sehingga para WBP Lapas Kotaagung, meskipun dalam status menjalani masa hukuman atas perbuatannya di masa lalu, mereka tetap punya hak untuk mengembangkan kreativitasnya.
“Dengan demikian, Lapas Kotaagung memberikan fasilitas terhadap penyaluran kreativitas bagi warga binaan kami. Hal ini merupakan satu poin penting, dalam proses pembinaan yang kami lakukan. Karena bagi mereka, meskipun raga masih di balik jeruji, tiada penghalang untuk selalu berkreativitas tanpa batas dan tentunya secara positif,” ujar kalapas alumnus AKIP Angkatan 32 itu.
Beni menjelaskan, proses pembuatan kursi dari drum bekas dan proses pelukisannya, dikerjakan para WBP di Klinik Pancasila Lapas Kelas IIB Kotaagung.
Dengan hasil karya-karya tersebut, kalapas berharap, dapat menjadi contoh sekaligus memotivasi warga binaannya untuk berjiwa entrepreneur. Dengan demikian, ketika telah selesai menjalani masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat, WBP dapat kembali ke kehidupan secara normal.
“Terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi dirinya dan keluarga. Berbekal keterampilan dan bakat yang dimiliki serta hasil pembinaan di dalam lapas selama menjalani masa pidana, WBP dapat survive bahkan tak menutup kemungkinan bisa sukses, dengan cara yang positif,” harap Beni Nurrahman.
Adalah AL, salah seorang WBP di Lapas Kelas IIB Kotaagung. Ia merupakan pelukis pada kursi berbahan baku drum bekas hasil karya para WBP. AL mengaku sangat gembira, lantaran diapresiasi dan dibantu untuk mengekspresikan hobi dan imajinasinya dalam melukis. Bahkan tak sekedar melukis di atas kanvas. Melainkan menggunakan media unik: drum bekas berbentuk kursi.
“Kursi dari drum bekas yang menjadi media lukisan ini, menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk meningkatkan kemampuan (melukis) saya. Karena bentuknya yang unik melengkung dan bergelombang,” tutur AL.
Sebelum sampai di tangan AL untuk dihiasi dengan dilukisan, kursi dari drum bekas tersebut merupakan hasil tangan terampil dari WBP lainnya. Dengan ide kreatif yang dimiliki sesama WBP, drum bekas tak terpakai, bertransformasi menjadi kursi sederhana.
Hasil akhirnya sangat menakjubkan. Drum bekas yang sudah berubah wujud itu, alih-fungsi sebagai tempat duduk sehari-hari. Bahkan tak kalah nyaman dengan kursi-kursi konvensional dan pastinya jauh lebih indah karena ada sentuhan lukisan estetis. (***)




















Discussion about this post