PANARAGAN (translampung.id)– Sejumlah destinasi wisata menarik kini ada di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung.
Hal itu seiring keberhasilan Bupati Umar Ahmad dan Wakil Bupati Fauzi Hasan dalam memimpin Tubaba, khususnya dari sektor kepariwisataan.
Dikenal Kabupaten bukan-bukan, bukan lintasan, bukan tujuan, kini menjelma menjadi Kabupaten yang bukan main, dan salah satu daerah yang sudah cukup dikenal masyarakat luas hingga mancanegara.
Dengan banyaknya destinasi wisata menarik, unik, dan memiliki ciri khas tersendiri, menjadikan Kabupaten Tubaba adalah satu wilayah yang wajib dikunjungi wisatawan.
Adapun berbagai destinasi wisata Tubaba yang berhasil dibangun dan dikembangkan Pemkab setempat diantaranya.
Islamic Center Tubaba.
Mulai dibangun Mei 2014 dan diresmikan pada tanggal 11 Oktober 2016, ruang ini merupakan jawaban akan keinginan Tubaba untuk memiliki ruang temu yang menjadi milik dan kebanggan masyarakat. Dengan mengundang arsitek ternama Andra Martin, dibuatlah komplek Masjid yang disandingkan dengan balai adat Sesat Agung Bumi Gayo dengan memakai filosofi “hidup dikandung adat dan mati dikandung amal dan iman”. Masjid yang terdapat di komplek Islamic itu dikenal As-Shobur, yang merupakan Masjid pertama yang sangat jauh dari kesan konstruksi khas Timur Tengah, hal ini merupakan suatu keunikan tersendiri.
Patung Relief Monumen Megow Pak.
Monumen Megou Pak atau Monumen Empat Marga merupakan relief setinggi kurang lebih 15 meter yang menghadirkan wajah empat sosok leluhur masyarakat Tulang Bawang – Tulangbawang Barat. Letak monumen ini berada tepat di sisi jalan Provinsi di wilayah Tiyuh (Desa) Panaragan, Monumen yang dibangun sejak tahun 2016 ini dimaksudkan untuk mengabadikan, melestarikan, dan mengenalkan sejarah adat Megou Pak kepada generasi millenial dan khalayak luas. Selain itu, adanya monumen ini juga diharapkan agar manusia Tubaba akan selalu menjaga nilai-nilai baik leluhur untuk bergerak bersama memajukan Tubaba.
Las Sengok.
Lokasi yang berada di Kecamatan Tulangbawang Udik ini, berdasarkan cerita turun-temurun warga lokal, hilangnya peradaban Nughik akibat letusan Krakatau Purba masih menyisakan salah satu produk kebudayaan yang masih bisa ditelusuri sampai saat ini yang bernama Las Sengok. Las Sengok berasal dari kata Las yang berarti hutan dan Sengok yang berarti angker. Las Sengok dibangun oleh masyarakat Nughik sebagai mitologi tentang bagaimana mereka menjaga kelestarian alam, sumber air, pepohonan sebagai sumber daya oksigen, dan relasi antar sesama manusia.
Tubaba Bike Park.
Dilaunching pada tanggal 28 Oktober 2018. Gerbang utama berada di Tiyuh Tirta Makmur, Kecamatan Tulang Bawang Tengah. Memanfaatkan sisi jalur irigasi, lintasan Tubaba Bike Park sarat nuansa Tubaba, dengan pemandangan area pertanian dan perkebunan karet di sisi kanan dan kiri. Pesepeda juga diajak untuk menelusuri nuansa hidup masyarakat dengan melintasi jalan permukiman di Tiyuh Tirta Kencana, Tirta Makmur, dan Mulya Jaya.
Tugu Rato Nago Besanding.
Berdiri megah di Simpang Tiga Kagungan Ratu, Kampung Rawa Kebo, Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah. Tugu ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan ditangani langsung oleh seniman ternama asal Bali I Wayan Winten. Tugu Rato Nago Besanding dibuat sebagai simbol keagungan dan keluhuran budaya masyarakat Lampung, dimana nilai-nilai tersebut bukan hanya sebatas cerita di masa lalu saja, melainkan hal abadi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Tugu Titik Nol Tubaba.
Merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang direncanakan dengan konsep megalit dengan material utama berupa batu yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat estetis dan filosofis. Konsep era megalitikum diambil sebagai representasi budaya masa lampau sebelum manusia mengenal peralatan dari logam, dimana segala perlengkapan yang membantu kehidupan dibuat dengan material batu yang disediakan oleh alam. Dari era megalit inilah masyarakat purba dapat terus menjalani kehidupan dan menjaga eksistensinya sampai menghasilkan generasi modern saat ini. Dari hal ini dapat terlihat bahwa masa lalu tetap memiliki korelasi dengan masa sekarang juga masa depan. Konsep megalit pada Tugu Titik Nol Panaragan
sejalan dengan konsep Tubaba “Pulang ke Masa Depan”.
Kota Budaya Uluan Nughik.
Uluan Nughik bermakna awal kehidupan, dimana dilokasi itu pepohonan dan sumber air dirawat sebagai sumber kehidupan. Dikomplek uluan nughik terdapat bangunan rumah-rumah panggung yang sebagian besar berusia tua, yang sengaja dipindahkan dari beberapa lokasi kampung asli Lampung. Terdapat juga arena pertunjukan yang ditandai dengan adanya batu-batu besar nan indah.
Di kawasan komplek Uluan Nughik terdapat rumah suku badui, rumah tersebut dibangun dengan mendatangkan pekerja asli suku badui banten. Pembangunan rumah suku badui dimaksudkan sebagai salah satu simbol ikatan persaudaran antara masyarakat lampung dan banten yang sudah terjalin ratusan tahun atau ribuan tahun yang lalu, yang sempat dipisahkan oleh letusan gunung anak krakatau tahun 1883. Di kawasan Uluan Nughik itu juga, terdapat berbagai lokasi pengembangan seni budaya setempat, seperti misalnya Rumah Badik, Rumah Keramik, Taman Kebaikan, hingga sebuah Sekolah Seni dan Universitas Pendidikan.
Dikatakan Bupati Tubaba didampingi Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Tubaba, Mansyur, bahwa selain destinasi-destinasi wisata unggulan itu, terdapat juga destinasi wisata yang lagi tahap pembangunan diantaranya yakni Taman Ekowisata di Lambu Kibang.
“Tubaba juga memiliki sejumlah Destinasi Wisata Religi, diantaranya makam Minak Patih Pejurit di Tiyuh (Desa) Pagar Dewa dan Minak Indah di Tiyuh Panaragan.” Ungkapnya.
Lanjut dia, pada perjalanannya kepemimpinan pak Umar dan Fauzi, juga berhasil menggali potensi-potensi khas daerah, seperti misalnya pengembangan Tari Nenemo, Busana Nenemo, Musik Q-Tik, dan lain-lain.
Bahkan, upaya memperkenalkan Tubaba, beberapa festival lokal, nasional, dan internasional juga sempat digelar di Tubaba, seperti Festival Tubaba, Tubaba International Bamboo Festifal, dan Megalithic Millennium Art.
“Dengan pesatnya kemajuan Bumi Ragem Sai Mangi Wawai ini, juga berdampak pada perkembangan ekonomi masyarakat, dimana pelaku-pelaku usaha mikro dan kecil menengah, terbantu dan berkembang karena hadirnya Destinasi Wisata yang dikunjungi banyak orang.” Imbuhnya. (D/r)


















Discussion about this post