PANARAGAN (translampung.id)– Mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak akhir belakangan ini, peternak diminta untuk tidak perlu panik.
Dijelaskan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tubaba, Nazaruddin, bahwa PMK ini dapat disembuhkan dan dicegah dengan mudah, dan tidak menular kepada manusia.
“PMK adalah penyakit yang disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga aphtae picornaviridae, genus aphtovirus yaitu epizootecae.” Kata Nazaruddin, kepada translampung.id setelah rapat koordinasi dan pembentukan Satuan Petugas (Satgas) PMK di ruang Rapat Sekda, Senin (30/5/2022).
Kata dia, masa inkubasi atau masa sejak hewan tertular hingga timbul gejala klinis yaitu 1-14 hari, tingkat kesakitan bisa mencapai 100 persen, namun tingkat kematian sangat rendah berkisar 1-5 persen.
“Hewan yang diserang PMK adalah Sapi, Kerbau, Kambing, Domba, Babi, dan hewan berkuku lainnya. Dimana gejalas klinis PMK diantaranya hewan menjadi lemah, demam mencapai 41 derajat, air liur berlebih, tidak mau makan, mulut melepuh, luka pada lidah, kaki pincang, hewan sering berbaring, dan luka pada kuku hingga lepas.” Jelasnya.
Adapun penyebaran PMK ini memang cukup cepat, karena dapat melalui kontak langsung hewan tertular dengan hewan rentan melalui droplet, leleran hidung dan serpihan kulit. Kemudian kontak tidak langsung melalui vektor hidup, yaitu terbawa manusia dan bukan vektor hidup (seperti kendaraan, peralatan dan lainnya). Serta dapat juga tersebar melalui udara.
Untuk menangani PMK ini, maka Peternak dapat melakukan koordinasi dengan Disnakkeswan untuk dilakukan pengobatan, melakukan karantina selama 14 hari hewan ternak, membatasi mobilitas, meningkatkan imunitas ternak, serta memberikan pakan dan minum yang cukup.
“Sebagai upaya pencegahan, maka perlu juga pembatasan lalu lintas ternak melalui chek point pengiriman ternak ke daerah tertular, melakukan sanitasi dan desinfeksi secara rutin, dan pemberian vaksin.” Ungkapnya.
Lanjut dia, awal mula kemunculan PMK itu muncul sekitar pada April lalu di Jawa dan Aceh. Kemudian Menjelang lebaran Idul Fitri, kita mendapat laporan ada beberapa ekor ternak di Tubaba yang terkena.
“Berdasar laporan terdapat 55 ekor ternak Suspek, dari jumlah itu 6 positif PMK dan 1 mati. Tetapi yang mati bukan murni karena PMK, melainkan ada penyakit lain berupa diare berat.” Katanya.
Kabar baik, saat ini di Tubaba sudah tidak ada lagi ternak yang terkena PMK, semua sudah sembuh dan sehat. Sehingga pada hari ini, Disnakkeswan melakukan rapat sekaligus pembentukan Satgas guna mengantisipasi wabah tersebut terutama menjelang hari raya kurban.
“Tadi kita sudah bahas pembentukan Satgas yang terdiri dari unsur Polisi, Pol PP, Dinas Peternakan, Dinas Perhubungan, Bagian Hukum, hingga Asisten II. Kita berharap wabah ini tidak akan terjadi lagi di Tubaba.” Imbuhnya. (D/r)


















Discussion about this post