Catatan Ai’ ZulqadriAnsar
Generasi Baby Boomers Jerman
14 Februari 2022 yang bertepatan dengan hari valentine menandai kedatangan pertama saya ke negeri Panser. Tetiba keluar dari gedung Bandara Internasional Munich, saya disuguhkan billboard besarwajah Robert Lewandowski, salah satu pemain inti FC Bayern Munich, Klub sepak bola terbesar di kota ini.
Kedatangan saya di penghujung musim dingin ini, “ditampung” oleh keluarga sederhana dari Indonesia di sebuah kota kecil di pinggiran kota Munchen. Puchheim nama kotanya. Damai dan tenang suasananya seperti pada umumnya daerah subur ban di Jerman.
sepekan saya berada di kota kecil ini, saya menemukan banyak hal menarik. Salah satunya adalah penduduk di lingkungan kami yang dominan sudah berusia senja. Mereka hidup berdua dengan istrinya, atau bahkan sendiri dan mengurus diri mereka sendiri secara mandiri tanpa ditemani sang buah hati. Kadang-kadang saya mengamati keseharian mereka ditemani oleh pengasuh atau bahkan seekor anjing.
Entah mengapa mereka tidak ditemani oleh anak-anaknya pada penghujung usianya. Boleh jadi karena penanaman nilai-nilai kemandirian yang begitu melekat pada tradisi keluarga di Jerman atau karena tingkat kesibukan anak sehingga tidak memiliki waktu untuk merawat orang tua ataupun memang mereka tidak memiliki anak. entahlah..
Oleh sebab itu, salah satu jenis pekerjaan yang paling banyak ditawarkan di situs pencarian kerja adalah pengasuh lansia. Memang tidaklah menjadi seorang pengasuh lansia, karena selain kesehatan fisik yang menurun, lansia juga mengalami penurunan kemampuan kognitif, sehingga sulit mengendalikan emosi yang akhirnya menyebabkan lansia menjadi mudah tersinggung. Makanya sering kita menjumpai istilah “sifat lansia yang kembali menjadi kekanak-kanakan”.
Sekedar catatan bagi mereka yang mudah tersinggung, jangan-jangan and asudah mengalami proses penuaan dini ataupun anda masih kekanak-kanakan.
Secara umum, postur demografi di Jerman memang sangat di dominasi oleh usia 50 tahun keatas. Makanya salah satu tantangan terbesar Jerman adalah perawatan bagi lansia. Telah ada empat juta orang yang membutuhkan perawatan dan jumlahnya terus meningkat. Bahkan menurut perkiraan, pada tahun 2035 jerman akan membutuhkan setengah juta pengasuh. Di Jerman, masalah perawatan baby boomers sama rumitnya denganmasalahinfrastruktur, digitalisasi, danpendidikan. Dari pengamatan sederhana saya, ada dua penyeba butama persoalan ini karena tingkat harapan hidup yang cukup tinggi dan rendah nya angka kelahiran di Jerman.
Dari kesimpulan sementara saya, banyak lansia di Jerman yang menikmati masa senjanya tanpa didampingi oleh buah hati, karena memang tidak memiliki anak.
Di dunia yang serba cepat ini saya hanya berharap Berkarir tanpa harus mengorbankan kasih sayang kepada anak dan orang tua.
Entah mengapa, Pembelajaran pertama di kota Munich ini membuat saya merasa bersyukur menjadi orang Indonesia.
Di Indonesia sendiri, kita jarang menemukan fenomena seperti ini, karena merawat dan menemani masa-masa senja orang tua adalah sebuah amalan tersendiri bagi sang anak.
Dalam pendekatan agama dan budaya, berbakti merawat dan mengasuh orang tua adalah sebuah amalan utama bagi sang anak. Sebagi bentuk “balas budi” akan kebaikan orang tua yang telah mengasihi dan membesarkan kita.
Tulisan ini bisa jadi refleksi buat kita semua, terkhusus buat saya secara pribadi. Pada saat tulisan ini juga dibuat, saya tidak sedang merawat orang tua, saya sendiri sedang mengenyam pendidikan di negeri asal Albert Einstein untuk beberapa tahun kedepan. (*)
*) Ai’ Zulqadri Ansar adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di UT Munich Jerman.
















Discussion about this post