Ketika positif terpapar Covid-19 pada Minggu malam (13/2/2022), saya mendapat kabar bahwa mengalami sakit yang sama tidak sendiri. Banyak teman dan keluarganya yang bernasib serupa.
Ada yang terpapar Covid-19 beberapa hari sebelumnya. Sedang berjuang untuk penyembuhannya.
Bahkan tidak sedikit kondisinya yang jauh lebih parah dari saya. Terutama yang memiliki penyakit bawaan (komorbid). Jenisnya beragam.
Saat mengetahui hal itu, dalam hati saya makin bersyukur. Meski diberi cobaan sakit Covid-19, namun sama TUHAN tetap dijaga. Kondisinya tidak separah sebagian teman saya.
Malah saya harus banyak bersyukur karena terpapar Covid-19 dengan gejala ringan. Hanya kelelahan saja.
Hikmahnya sama TUHAN diperintahkan untuk fokus istirahat. Meninggalkan sejenak agenda yang telah dijadwalkan. Keluar dari runititas silaturahim serta Sharing Komunikasi dan Motivasi.
Memulihkan kembali tenaga dan kesehatan. Untuk selanjutnya kalau semuanya sudah “terkumpul” dan kondisinya negatif, bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.
Insya ALLAH beraktivitas lebih semangat lagi. Bahkan amunisi topik bahasannya bertambah karena resmi menjadi penyintas Covid-19.
Niat Kuat
Sedangkan kepada teman yang sama-sama terpapar Covid-19, saya menyemangati mereka agar segera sembuh. Sehingga bisa melaksanakan berbagai aktivitas yang sempat tertunda.
Kepada mereka juga saya tekankan agar konsisten mewujudkan hati yang bersih. Ini adalah salah satu obat terpenting agar imunitas tubuh terjaga dengan baik.
Jangan membiarkan sedikit pun, meski hanya setitik, noda negatif masuk ke dalam dirinya. Karena akan merugikan dirinya sendiri.
Harus ada niat yang kuat untuk melakukan itu. Yakin bisa melakukannya karena untuk kebaikan diri sendiri.
Selain itu, meski dalam kondisi sakit, harus selalu menjaga lisan dan tulisan kepada semua orang. Jangan ada yang tersinggung karena yang kita sampaikan.
Makanya sebelum berucap atau menyampaikan sesuatu lewat tulisan, lebih dulu dipikirkan reaksi penerimanya. Upayakan menimbulkan kesejukan lahir batin.
Semua yang disampaikan tidak bisa ditarik kembali. Jika salah, mungkin dimaafkan oleh penerimanya. Namun luka batin perlu waktu untuk penyembuhannya.
Sebelum terjadi, berpikirlah lebih dulu saat akan menyampaikan lisan dan tulisan. Itu lebih baik dilakukan untuk menjaga harmoni.
Mengeleminir Masalah
Terakhir agar selalu berpikir positif termasuk dalam kondisi sakit. Ambil hikmah terhadap semua kejadian.
Jangan pernah menyalahkan siapapun terutama TUHAN. Dengan selalu berpikir positif maka pikiran dan hidup jadi ringan.
Juga mengeleminir masalah. Semuanya disederhanakan. Melihat dan menilainya dari sisi positif. Bukan sebaliknya.
Ketika imunitas tubuh selalu terjaga dengan baik maka itu akan mempercepat penyembuhan. Yakinlah dan upayakan terus secara konsisten.
Akhirnya harus yakin bahwa semua penyakit berasal dari TUHAN. Perlu berdoa agar Sang Pencipta menyembuhkannya. Diiringi dengan upaya sungguh-sungguh buat penyembuhannya.
Semoga semua orang yang sakit bisa menerima cobaan tersebut dan segera sembuh total. Aamiin ya robbal aalamiin…
>>>🇮🇩Dari Bogor dengan kondisi fisik yang sangat sehat dan penuh rasa syukur serta bahagia sekali, saya ucapkan selamat menyemangati diri sendiri dan orang lain. Salam hormat buat keluarga. 06.00 18022022😃🇮🇩<<< Aqua Dwipayana Motivator Nasional dan Penulis Buku Best Seller


















Discussion about this post