KOTAMETRO, TRANSLAMPUNG.ID – Tim Gabungan Pemerintah Kota Metro kembali melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) harga dan ketersediaan gas LPG bersubsidi 3 kg di sejumlah agen dan pangkalan di kota setempat.
Sidak kali ini dilakukan oleh tim Gabungan yang terdiri dari Hiswana Migas, Pertamina, dan Dinas Perdagangan Kota Metro.
Adapun sidak dilakukan di 11 titik distribusi, diantaranya lima agen, lima pangkalan, dan satu Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kota setempat.
Di mana sidak tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan distribusi gas LPG bersubsidi berjalan sesuai aturan.
Selain itu sidak juga dilakukan untuk memantau penjualan gas LPG 3 kg di pangkalan sesuai dengan ketentuan pemerintah. Yakni Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 20.000 per tabung.
Demikian disampaikan Kabid Perdagangan Kota Metro, Eni Purwati dikonfirmasi awak media pada Rabu 9 Juli 2025.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan evaluasi berkala terhadap distribusi LPG 3 kg. Ini termasuk kemungkinan penguatan regulasi untuk menekan penyimpangan harga dan distribusi.
“Kita pastikan bahwa gas elpiji bersubsidi ini jatuh ke tangan yang tepat, bukan ke industri besar atau pengecer spekulatif,” ungkapnya.
“Kami juga mengingatkan agar pangkalan mencatat dengan tertib distribusi harian, agar bisa kami awasi,” serunya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) Hiswana Migas Metro, Mawardi mengatakan, bahwa sidak dilakukan sebagai bentuk pengawasan aktif terhadap jalur distribusi gas LPG 3 kg. Selain itu juga untuk memantau kepatuhan pangkalan serta agen terhadap regulasi pemerintah.
“Kami memantau langsung agen, pangkalan, dan SPBE untuk memastikan ketersediaan dan harga gas LPG 3 kilogram,” ujarnya.
“Alhamdulillah, dari hasil sidak ini stok tersedia dan harga masih stabil di angka HET,” katanya.
Diakuinya bahwa, ada beberapa agen baru yang beroperasi di Metro. Karena itu ia berharap distribusi gas bersubsidi ke masyarakat semakin lancar, merata, dan tidak menimbulkan kelangkaan di tingkat bawah.
“Kami memang tidak bisa memastikan berapa jumlah tabung yang beredar, karena tiap agen memiliki kuota berbeda. Tetapi yang penting, distribusi ke pangkalan berjalan. Kemudian dari pangkalan ke masyarakat bisa dijangkau dengan harga sesuai aturan,” ungkapnya.
Meski demikian dalam sidak tersebut pihaknya juga ingin memastikan bahw pangkalan tetap memprioritaskan rumah tangga dan pelaku UMKM yang menjadi sasaran utama dari kebijakan subsidi.
“Pangkalan harus bisa menjaga ketersediaan untuk masyarakat sekitar dan tidak bermain-main dengan harga,” serunya.
“Karena ketika stok di pangkalan habis, masyarakat terpaksa membeli dari pengecer dengan harga lebih mahal, bahkan bisa sampai Rp 25 ribu per tabung,” jelasnya.
Oleh karenanya pihaknya mengimbau masyarakat untuk membeli gas di pangkalan dan agen.



















Discussion about this post