PANARAGAN (translampung.ID)–Mengais kisah Nyai Sirr. Tidak semua wali dikenal, tidak semua mursyid memakai sorban. Kadang mereka hanya seorang perempuan tua di pinggir ladang, yang menanam zikir dalam air cucian beras, dan membangunkan jiwa dari dapur yang tenang.
Disebuah desa kecil di kaki gunung Cakrabuana, tinggal seorang perempuan tua yang dipanggil “Nyai Sirr” Tidak ada yang tau nama aslinya. Tidak ada pula yang tahu siapa gurunya. Tapi setiap malam, ada cahaya samar keluar dari rumahnya, dan wangi harum menyerbak sampai ke jalan kecil hingga di depan surau (Mushola).
Dia bukanlah seorang Ustazah, tapi dikenali oleh langit.
Nyai Sirr tidak pernah mengajar di majelis. Tidak pernah tampil di depan. Tapi siapapun yang duduk di dekatnya, hatinya terasa damai. Banyak istri-istri petani datang padanya diam-diam.
“Nyai, suami saya gelisah terus. Nyai, anak saya tak mau shalat, la hanya tersenyum, menyentuh tangan mereka, lalu berkata pelan. Dzikirlah waktu mengaduk nasi” Ucap Nyai Sirr, dengan nada lirih.
Dari rasa la berbicara. Suatu malam hujan deras mengguyur desa. Seorang pemuda yang sedang menempuh, perjalanan rohani atau spiritual untuk mendekatkan diri kepada tuhan (Suluk) merasa gelisah luar biasa. la tak bisa tidur. la mengambil tasbih dan berjalan.
lalu entah kenapa langkahnya menuju rumah Nyai Sirr. Tapi ia ragu untuk mengetuk. Tiba-tiba pintu terbuka sedikit. Suara pelan terdengar dari dalam.
“Yang kau cari bukan di luar, tapi di tempat kau baru saja tinggalkan. Kembali dan jangan ragukan nur di dadamu” Terdengar suara lembut dari dalam bilik, seraya meyakinkan.
Sontak saja pemuda itu menangis seketika. la kembali ke ruang suluk, dan malam itu hatinya terbuka untuk pertama kali ia melihat cahayanya sendiri.
Hingga wafat. Nyai Sirr tidak dikenang, tapi selalu didoakan, tidak ada yang mengumumkan panjang. la dikubur di belakang rumahnya. Tapi malam-malam setelah itu, banyak orang bermimpi. Dalam mimpinya, Nyai Sirr berkata.
“Zikir terus, aku masih di sekitarmu” Mimpi seorang wanita muda yang sering meminta petuah dari Nyai Sirr kala hidup.
Anehnya, setelah kepergian Nyai Sirr, selamanya beberapa perempuan di desa mulai mengalami keanehan ruhani. Ada yang mendengar tasbih berdenting sendiri saat sepi, Ada yang menemukan ayat-ayat muncul dalam mimpi, dan Ada anak kecil yang bisa mengucap Lafadz “La ilaha illallah” sebelum belajar bicara.
Kini Nyai Sirr selalu dikenang. Mereka semua tahu. Nyai Sirr masih hidup, dalam rasa.
Dia lah seorang tokoh perempuan tarekat Syattariyah yang diam, tapi ruhnya membangunkan dunia. Dengan kata lain, perempuan yang Dibisiki Langit. (Dirman)


















Discussion about this post