Tak ada bahasa yang gampang, semua bahasa itu susah. Yang ada, bahasa yang penuturnya masih banyak, dengan bahasa yang penuturnya sudah mau habis, bahasanya sudah hampir punah.
Siang tadi, bung dolop ditelepon aktivis kebudayaan, Rilda A Oe Taneko, telepon konferensi video bareng dengan budayawan Udo Z Karzi, seharusnya juga dengan Ketua Lampung Sai, Rycko Menoza, RM belum bisa gabung karena keluarga besarnya usai ziarah jelang Ramadhan.
Apa cerita? Hingga Ara –sapaan karib Rilda– mengajak video-call jauh-jauh dari Lancaster, Inggris. Rupanya Ara melontarkan rencana membentuk kelas kursus Bahasa Lampung, daring pun luring, pesertanya boleh siapa saja, terutama anak-anak muda.
Obrolan kemudian berkembang, masuk anak-anak muda yang saat ini sohornya disebut dengan istilah Content Creator. Wildayana Zakki dan Angga Rinzanie ikut gabung pula.
Udo dikenal sebagai pendekar gigih kalau soal bahasa Lampung cq sastra berbahasa Lampung, utamanya dialek pesisir yang khatam dikuasainya. Udo disebut sempat curhat, kalau bikin kursus Bahasa Lampung, tak ada lagi yang mau ikut, berpartisipasi apalagi mendukung pendanaan yang cukup.
Ara menimpal optimis, “Kita bikin saja dulu, aku yang jadi siswa awalnya,” ceplos penulis cum akademikus disiplin itu.
So, bakal ada lembaga kursus bahasa Lampung supaya bahasa indah nan luhur ini urung lenyap dari khazanah bahasa dunia? Gampang? Pasti nggak! Tapi kita bikin aja dulu. Tabik puuun. (*)
NB: foto tidak terkait langsung dengan tulisan, itu foto kami waktu ngupi di Warkop Waw 😍


















Discussion about this post