Dosen UIN RIL, Tomy Suganda
SEBAGAI dosen muda di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), “hasrat” Tomy Suganda akan referensi dan literasi mata kuliahnya seolah tak pernah terpuaskan. Terbukti dengan masih setianya dosen berdarah Lampung itu, pada pesan dari orang tuanya: “semakin kita belajar, hakikatnya semakin kita merasa bahwa diri kita masih bodoh”. Pesan itu pula yang hingga kini terus ia tularkan pada para mahasiswanya. Lantas, apa yang membuat alumnus dua perguruan tinggi bergengsi itu berminat menjadi dosen? Berikut tulisannya.
Oleh: Tomy Suganda, Editor: A. Yogy/translampung.id
BANYAK cara bisa dilakukan tiap Warga Negara Indonesia untuk berbakti pada tanah tumpah-darahnya. Mendedikasikan diri bagi sesama dalam tiap aspek kehidupan, tak melulu harus menunggu usia senja. Para jiwa muda pun, bisa berbuat untuk sesama. Seperti yang telah dibuktikan oleh Tomy Suganda.
Meski terhitung masih muda, soal jam terbang dan pengalaman Tomy Suganda, tak perlu diragukan. Di UIN RIL ini, dia bahkan tak hanya mengajar satu mata kuliah. Melainkan empat mata kuliah: Fisiologi Perilaku, Statistik, Islam dan Budaya Lampung, dan Bahasa Inggris Profesi.
Cita-cita dan tekat pemuda kelahiran Lampung Tengah 12 Juli 1995 itu untuk berkontribusi bagi tanah kelahiran, kental tertanam pada “DNA“-nya. Bahkan sedari ia masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Demi mewujudkan asanya, Tomy Suganda tak pernah lelah mengasah kemampuan intelektualnya.
Setelah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas, alumnus SMAN 3 Kota Metro itu pun menjatuhkan pilihan Strata 1 (S1)-nya pada Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro. Merasa keilmuannya masih dangkal, ia lantas lebih mendalami lagi selama setahun Profesi Ners di universitas yang sama.
Kemudian di tahun 2021 lalu, dosen yang sangat hobi berdiskusi itu, menuntaskan jenjang S2-nya pada Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Setelah dirasa cukup lama menimba ilmu dan jauh dari tanah kelahiran, Tommy Suganda lantas kembali ke Lampung. Tak sekadar “mulang tiyuh” (pulang kampung), namun ia punya tekat yang jauh lebih besar. Yaitu berkontribusi nyata bagi daerah kelahirannya.
Meski sudah melanglang buana jauh dari kampung demi menimba ilmu, namun ada satu pesan dari orang tua Tomy Suganda yang selalu hidup di hatinya. Pesan itulah yang sejatinya menjadikannya sosok dan pribadi yang cerdas dan berwawasan. Pesan tersebut adalah: semakin kita belajar, hakikatnya semakin kita merasa bahwa diri kita masih bodoh.
“Sebuah pesan (dari orang tua saya), agar saya tidak mudah puas dan merasa paling tahu sesuatu. Sebagai pengajar yang dituntut untuk cerdas dan mencerdaskan, saya selalu mengingat pesan (orang tua saya) itu. Oleh karenanya sampai sekarang, dalam proses mengajar di kelas, menurut saya bukan hanya mahasiswa yang belajar pada dosen. Tetapi dosen pun sedang belajar pada mahasiswanya,” tutur Tomy Suganda.
Sebagai dosen yang kebetulan berdarah Lampung, ia pun acap kali menyisipkan prinsip hidup orang Lampung, yaitu piil pesenggiri. Prinsip turun-temurun leluhur itu, tak pernah lupa ia tularkan. Terlebih prinsip hidup yang tertanam dalam diri, untuk terus berbuat baik. Prinsip merasa malu apabila tidak berprestasi, tidak dapat bersaing, dan tidak dapat menjaga hubungan antarsesama manusia (bermanfaat untuk orang lain).
Menurut Tomy Suganda, seorang mahasiswa harus memiliki tanggung jawab, bukan hanya untuk cerdas dalam intelektual. Namun juga peka dalam aspek sosial. Pesan itu juga kerap ia sampaikan dan sisipkan pada mahasiswanya di UIN RIL.
“Sebagai salah satu pengajar di UIN RIL, saya bertanggung jawab untuk ikut berkontribusi aktif, mendukung pengembangan dan kemajuan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam tertua dan terbesar di Lampung ini,” kata Tomy Suganda.
Apalagi sejak masih mahasiswa, baik di Universitas Diponegoro maupun Universitas Indonesia, Tomy Suganda dikenal sebagai seseorang yang disiplin, aktif bergaul, dan hobi berdiskusi.
Akhirnya kini, sebagaimana cita-citanya untuk berkontribusi bagi masyarakat Lampung, ia memilih profesi sebagai pengajar. Segenap waktu, tenaga, dan pikiran ia dedikasikan untuk salah satu profesi terhormat ini, sebagai bentuk pengabdian pada tanah kelahiran.
Tomy Suganda menerangkan, UIN RIL adalah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam tertua dan terbesar di Lampung. Tercatat UIN RIL berdiri sejak tahun 1968. Rintisan perkembangan kampus ini telah melalui beberapa tahapan-tahapan.
Dimulai dari rintisan dan pendirian 1961-1973. Lalu tahapan pembangunan 1973-1993 dan pengembangan 1993-2015. Kemudian tahapan alih status 2015-2017. UIN RIL punya visi “Terwujudnya Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung sebagai rujukan internasional dalam pengembangan ilmu keislaman integratif-multidisipliner berwawasan lingkungan tahun 2035”.
“Visi itulah yang menjadi spirit kami bersama civitas akademika,” tandas Tomy Suganda. (*)
Nama: Tomy Suganda
Tempat/Tanggal Lahir: Lampung Tengah, 12 Juli 1995
Alumnus SMAN 3 Kota Metro (2013)
S1 Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro (2017)
Profesi Ners Universitas Diponegoro (2018)
S2 Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (2021)
Pengajar untuk Mata Kuliah:
1. Fisiologi Perilaku
2. Statistik
3. Islam dan Budaya Lampung, dan
4. Bahasa Inggris Profesi


















Discussion about this post