Dosen UIN Raden Intan Lampung, Ners. Kholis Khoirul Huda, M.Tr.Kep.
Edisi tulisan kali ini, kita masih bersama membaca tulisan dari para Dosen Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL). Kali ini giliran Ners. Kholis Khoirul Huda, M.Tr.Kep. membagikan tulisannya bersama translampung.id dan Warkop WAW. Selama menjadi mengabdi UIN Raden Intan Lampung, apa saja tantangan yang harus dihadapi dosen muda yang akrab dipanggil Koko ini? Berikut tulisannya.
Ditulis oleh: Ners. Kholis Khoirul Huda, M.Tr.Kep., Editor: A. Yogy/translampung.id
“Pisau yang tumpul jika sering diasah, bisa menjadi tajam”. Diakui atau tidak, pepatah kuno itu berlaku dalam seni menulis. Untuk bisa menjadi penulis yang konsisten dengan karakternya, seseorang harus terus “mengasah” kemampuannya. Terlebih bagi seorang dosen. Kemampuan menulis sepertinya menjadi syarat yang mutlak dimiliki. Sebab seorang dosen seyogyanya mampu mengejawantahkan ide dan gagasan di dalam “kepala” yang masih abstrak, ke dalam sebuah tulisan agar bisa dimengerti khalayak. Terutama para mahasiswa.
Hasrat untuk mampu menulis dengan baik, selalu berkobar dalam benak Koko. Maka tak heran, ketika Warkop WAW dan translampung.id menawarkan peluang pada dosen kelahiran Januari 1995 itu untuk melatih kemampuan menulis, dia senang bukan kepalang.
Meski terbilang dosen muda, kapabilitas dan integritas Koko tak perlu diragukan. Ber-background disiplin ilmu Keperawatan Perioperatif, UIN Raden Intan Lampung menugasi alumnus SMAN 3 Kota Metro itu mengampu mata kuliah: Ilmu Kesehatan Dasar, Fisiologi Perilaku, dan Psikologi Tasawuf.
Alumnus S2 Magister Terapan Keperawatan Poltekkes Semarang itu meyakini, lulusan bidang keperawatan terapan tidak hanya menjadi praktisi keperawatan. Namun bisa juga menjadi seorang dosen atau tenaga pengajar.
“Profesi dosen merupakan impian banyak orang. Saya adalah salah satu di antara banyak orang yang bermimpi menjadi dosen itu. Tahun 2021 lalu, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi dosen di UIN Raden Intan Lampung,” ujar dosen muda yang beralamat di Kabupaten Tulangbawang Barat itu.
Dalam prosesnya, Koko menyadari, menjadi dosen bukanlah perkara mudah. Ada banyak kegiatan yang harus ia kerjakan. Tanggung jawab utamanya adalah mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yaitu selain mengajar, ada pula penelitian dan pengabdian masyarakat.
Pada aspek penelitian, Koko mengatakan, seorang dosen mutlak memiliki kecakapan menulis. Terutama dalam menulis jurnal untuk dipublikasi. Kemampuan menulis pun dapat dituangkan pada karya lainnya, seperti artikel dan buku. Dalam hal ini, kreativitas menulis seorang dosen, menurut Koko, menjadi nilai tambah untuk meningkatkan karier pekerjaan.
“Saya sebenarnya memiliki minat yang tinggi dalam menulis. Namun kemampuan saya dalam menulis masih kurang. Bersama Warkop WAW kami berkolaborasi membuka group menulis untuk belajar dan sharing tentang kiat-kiat menulis yang baik dan benar,” tutur alumnus D4 Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang itu.
Melalui group menulis ini, Koko berharap dapat meningkatkan wawasan dan skill-nya dalam menulis. Semangat itu kian membara, karena ia punya rencana jangka panjang untuk menulis artikel dan buku di bidang kesehatan.
Sungguh di luar prediksi, meski mengaku kemampuan menulisnya belum mumpuni, ternyata Koko sudah “melahirkan” satu buku ber-International Standard Book Number (ISBN) berjudul “Buku Panduan Efektivitas Akupresur terhadap Kadar pH Saliva dan Frekuensi Mual Muntah pada Pasien Pasca-Operasi Laparatomi”.
“Buku itu saya tulis berdasarkan hasil penelitian tesis. Saya berencana akan menerbitkan buku kedua saya di bidang kesehatan. Dengan harapan (buku kedua) saya dapat menjadi referensi di bidang kesehatan. Namun di lain sisi, saya merasa kemampuan menulis masih kurang. Sehingga saya ingin fokus dulu belajar bersama Warkop WAW. Bertahap menulis artikel demi artikel. Lalu ke depan akan saya patenkan untuk menulis buku selanjutnya,” ujar Koko penuh semangat.
Dia mengakui, menulis merupakan kegiatan yang menarik namun sekaligus cukup sulit untuk dilakukan. Kendala yang kerap ia alami adalah banyaknya ide-ide yang terpikirkan dan muncul di “kepala” namun sulit dituangkan dalam tulisan.
“Ini merupakan tulisan artikel pertama saya, yang tentunya masih banyak kekurangan. Harapannya ke depan saya bisa terus menulis artikel lebih banyak dan lebih baik kualitas penulisannya,” harap Koko.
Dia memahami, bahwa menulis artikel dengan baik dan informatif, maka akan mudah dimengerti oleh pembaca. Terlebih artikel yang ditulis membahas tentang bidang kesehatan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Koko sangat berniat untuk segera menulis artikel bidang kesehatan. Mengingat di masa ini, sedang banyak isu tentang penyakit menular Covid-19. Dengan bisa berbagi tips kesehatan dan berguna untuk para pembaca, memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Koko.
“Itu saja yang dapat saya tuangkan dalam tulisan pertama ini. Semoga dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi pembaca, serta tertarik juga untuk menulis dan belajar bersama Warkop WAW dan translampung.id. Ayo menulis, karena menulis itu asyik,” ajak Koko. (*)
Nama : Ners. Kholis Khoirul Huda, M.Tr.Kep.
Tanggal Lahir: Januari 1995
Alamat: Tulangbawang Barat
Riwayat Pendidikan:
– SMAN 3 Kota Metro
– D4 Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang
– Profesi Ners Poltekkes Semarang
– Pelatihan Kamar Bedah HIPKABI Semarang
– S2 Magister Terapan Keperawatan Poltekkes Semarang
Mata Kuliah:
1. Ilmu Kesehatan Dasar
2. Fisiologi Perilaku
3. Psikologi Tasawuf


















Discussion about this post