Keprihatinan Seorang Jenderal pada Teman Seangkatannya yang Sombong
“Saya dan puluhan kawan seangkatan heran melihat perubahan sikap teman kami tersebut. Begitu dipromosikan dan mendapat amanah lebih, jadi sombong. Padahal dia menjabat itu hanya sebentar,” ujar seorang jenderal menyampaikan curahan hatinya kepada saya teman perubahan sikap koleganya.
Kami ketemu beberapa hari lalu. Perjumpaan yang tidak disengaja. Secara bersamaan sedang berada di satu kota.
Begitu mengetahui saya sedang berada di kota yang sama, teman itu langsung kontak saya. Mengajak ketemu. Saya yang hobi silaturahim langsung menyambut gembira.
Setengah jam kemudian kami ketemu. Setelah tidak jumpa fisik selama belasan tahun. Selama ini hanya kontak lewat telefon dan WhatsApp.
Selain nostalgia, kami mendiskusikan banyak hal. Termasuk tentang teman seangkatannya yang sombong itu.
“Karena perubahan sikapnya yang negatif, akhirnya saya dan kawan-kawan seangkatan jaga jarak dengan teman itu. Kami memutuskan demikian daripada timbul masalah baru,” lanjut sang jenderal.
Harus Mempertanggungjawabkannya
Menurutnya tidak berteman sama orang yang sombong itu sama sekali tidak ada masalah. Apalagi rezekinya selama ini dari TUHAN, bukan dari yang lain.
Jenderal itu melanjutkan sangat prihatin dengan perubahan sikap negatif temannya tersebut. Padahal tidak ada yang perlu disombongkan. Apalagi jika menyadari bahwa semuanya termasuk pangkat dan jabatan adalah titipan dari TUHAN.
Sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemilikNYA. Sedangkan orang yang dititipkan harus mempertanggungjawabkannya. Tidak ada seorang manusia pun yang lolos dari hal itu.
Beberapa tahun kemudian temannya tersebut pensiun. Sejak itu tidak ada kawannya. Sebagian besar pada menjauh termasuk yang semula dekat.
Mereka yang awalnya dekat, bersikap seperti itu karena pamrih. Ada maunya. Begitu sudah tidak menjabat, ngga ada lagi yang bisa diharapkan dari orang yang sombong tersebut.
“Sekarang teman saya itu kesepian, sendirian. Itu terjadi karena kesombongannya saat menjabat. Sementara teman-teman seangkatannya sering kumpul dan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan dan membuat hati gembira,” jelas jenderal itu.
Meski tidak terucap, temannya yang sombong itu pasti menyesal. Uangnya yang banyak tidak bisa menggantikan kebahagiaannya saat kumpul sama teman-teman seangkatannya.
Pasti Malu
Sementara itu untuk kumpul dengan teman-teman seangkatan pasti malu. Meski ada sebagian yang memaafkan dan menerimanya.
“Itu adalah pelajaran hidup. Juga pengalaman berharga buat adik-adik junior saya yang masih bertugas. Jangan sombong saat menjabat karena akan merugikan diri sendiri baik di dunia maupun akhirat,” tambah jenderal itu mengingatkan para juniornya.
Dari banyak ujian di muka bumi ini salah satunya adalah saat menjabat. Apakah bisa amanah dan rendah hati? Atau bersikap sebaliknya yang akhirnya merugikan diri sendiri.
Mereka yang amanah dan makin rendah hati saat menjabat, biasanya sukses melaksanakan jabatannya itu. Sehingga mendapat kepercayaan yang lebih besar.
Semoga setiap orang yang sedang menjabat ingat bahwa jabatan itu hanya sementara dan harus dipertanggungjawabkan. Dengan begitu ketika mendapat amanah hati-hati melaksanakannya. Selalu menjaga tutur kata dan tingkah lakunya agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Aamiin ya robbal aalamiin…
>>🇮🇩Saat sedang santai di Bogor sambil menikmati udara yang sejuk karena sedang hujan, saya ucapkan selamat berusaha untuk konsisten menjadi orang yang rendah hati. Salam hormat buat keluarga. 06.45 06022022😃🇮🇩<<<
Aqua Dwipayana Motivator Nasional dan Penulis Buku Best Seller
















Discussion about this post