Almarhum Hi. Ismail Komar, S.H., M.M. bin Komarudin Jahrie
“Perpisahan hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka. Tetapi bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan.” Kata bijak dari Rumi itu menggambarkan rasa duka mendalam dari keluarga besar SKH Radar Lampung, Radar Lamteng, Trans Lampung, dan Radar Metro. Perusahaan media di bawah naungan Radar Lampung Group itu, ditinggalkan untuk selamanya oleh sosok pemimpin multitalenta, jurnalis senior, sekaligus motivator andal: Hi. Ismail Komar, S.H., M.M. Ironis. Karena berpulangnya General Manager SKH Trans Lampung pada Selasa (18/10/2022) pagi, terjadi setelah tiga hari wafatnya ayahanda tercinta, Komarudin Jahrie pada Sabtu (15/10/2022).
Oleh: Albertus Yogy Pratama/translampung.id
Bagi kami, para jurnalis (kepala biro) daerah SKH Trans Lampung, Radar Lamteng, dan Radar Metro, peristiwa berpulangnya Bang Ismail Komar teramat sangat mengejutkan. Terlebih, dia masih sempat dan bahkan sangat tegar, ketika mengantarkan ayahandanya tercinta menuju peristirahatan terakhir. Namun tak ada seorang pun yang menduga, tiga hari kemudian Ismail Komar menyusul sang ayah.
Keluarga besar beserta para kerabat, tentu sangat terkejut dan terpukul dengan kepergian abadi dua sosok berarti dalam keluarga mereka. Terlebih bagi dr. Endang Purwaningsih, istri almarhum Bang Iskom — sapaan akrabnya. Saat tutup usia di angka 46 tahun, Bang Iskom meninggalkan empat orang anak.

Serupa dengan yang dirasakan keluarga dan kerabat, tim SKH Trans Lampung di kabupaten/kota se-Lampung, juga tertegun sekaligus terperangah atas kabar wafatnya Ismail Komar. Sebab sudah sejak awal 2022 ini, kondisi jurnalis alumnus Fakultas Hukum UGM itu sangat stabil. Bahkan kebiasaan lamanya sebagai seorang workaholic sudah kembali muncul setelah sekian lama menghilang dari seorang Ismail Komar.
Kepada para wartawannya, Bang Iskom mengakui terpaksa meninggalkan kebiasaan lamanya sebagai pekerja keras siang dan malam, setelah ia sempat divonis menderita komplikasi penyakit dalam. Namun dengan kesabaran dan ketelatenan sosok istri yang berprofesi seorang dokter, kondisi Bang Iskom perlahan membaik. Terlebih setelah ia kali pertama dikenalkan minuman kopi tanpa gula oleh sang istri, Bang Iskom semakin fit.

Momentum itu pula yang membuat pria kelahiran 26 November 1976 silam itu begitu mencintai dunia per-kopi-an. Setiap proses pengolahan dan treatment terhadap biji kopi, mulai dari pemetikan buah hingga penyajian, ia dalami. Bahkan ia begitu dalam melakukan research secara khusus terhadap kopi dengan segala khasiat positifnya. Sejak merasa ditolong Allah SWT melalui kopi, Bang Iskom lantas membuka Warkop WAW di dekat kediamannya. Tujuannya mulia: menularkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi kopi secara sehat.
Berbagai pesohor, mulai dari pejabat, pengusaha, akademisi, hingga kepala daerah di Sai Bumi Ruwa Jurai penasaran dengan pengalaman pribadi Bang Iskom yang sudah divonis komplikasi namun bisa sehat melalui minuman kopi. Bahkan sosok fenomenal Ganjar Pranowo serta artis Olivia Zalianty pernah singgah ke Warkop WAW milik Bang Iskom. Tak hanya sampai di situ. Brand Warkop WAW dalam waktu cepat menjamur di berbagai lokasi di Lampung.

Sebagai seorang jurnalis yang aktif di era 90-an, soal jaringan dan kepiawaiannya dalam menulis tak perlu dipertanyakan. Lalu sebagai seorang pemimpin perusahaan media, Bang Iskom tak pernah lelah untuk mendoktrin para wartawannya untuk menjunjung tinggi marwah jurnalis dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik. Bang Iskom adalah sosok yang punya prinsip. Terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan profesi jurnalis. Pernah pada sebuah momen dengan para wartawannya, Bang Iskom mengatakan: bad news is a good news, tapi itu dulu. Sekarang standard itu sudah bergeser: good news is the best news.
Talenta dan prinsipnya sebagai jurnalis, membuat kariernya semakin moncer. Selain sukses duduk di jajaran petinggi Radar Lampung, Bang Iskom juga sukses membidani lahirnya Radar Lamteng, Radar Metro, dan Trans Lampung. Selain di sektor media cetak, Bang Iskom juga menjajal peruntungannya dengan melebarkan sayap dengan merintis Radar Radio 94,1 FM di Lampung Tengah dan Radio Gesit FM di Tuba Barat. Tak ayal, kediaman sekaligus tempat persemayaman Bang Iskom di Jalan Turi Raya Perumahan Graha Madu Pesona Kecamatan Tanjungseneng, Bandarlampung, dipenuhi mayoritas pelayat adalah pejabat publik, wartawan, dan para ketua organisasi profesi jurnalis serta pimpinan perusahaan media massa.

Mbak Endang Purwaningsih sekilas berkisah, Selasa pagi saat ia hendak berangkat bertugas, Bang Iskom masih sempat membukakan pintu gerbang. Bahkan nyaris tak ada tanda pun firasat bahwa suaminya tercinta akan mengembuskan napas terakhir.
“Tadi pagi, sebelum saya berangkat tugas ke Lampung Tengah, saya bahkan masih berpamitan sama abang (Bang Iskom). Dan abang masih membukakan saya pintu gerbang. Saya dan anak-anak benar-benar nggak menduga dia pergi meninggalkan kami selamanya,” kisah Mba Endang dengan terbata-bata.
Kala menerima kedatangan para pelayat, Mbak Endang pun berusaha untuk tetap tegar. Pun demikian, rasa terpukulnya tak bisa ia sembunyikan. Suaranya parau. Nafasnya memburu. Sepasang matanya sayu. Tersirat begitu dalam rasa kehilangan dan duka, mengiris hati Mba Endang setelah kepergian Bang Iskom.
“Tadi abang sempat dirawat di Rumah Sakit Urip Sumoharjo dan meninggal di sana sekitar pukul 06.30 WIB. Saya mewakili almarhum abang, mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilafnya ya,” tutur Mbak Endang.

Senyum ramah Bang Iskom kini tak akan pernah kita lihat lagi. Namun sosoknya yang low profile, humble, supel, dan multitalenta, akan tetap abadi. Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Lampung, Hi. Ahmad Mufti Salim, Lc., MA. yang tampak hadir ke rumah duka, merasa sangat kehilangan. Sebab selama mengenal Ismail Komar, selalu terjalin silaturahmi dan komunikasi yang baik.
“Beliau selalu mengajak sharing dan sangat menjaga silaturahmi dengan baik. Sehingga saya merasa sedih. Apalagi beliau harus berpulang dengan usia yang masih terhitung muda. Semoga amal baik dan ibadahnya diterima di sisi Allah SWT,” ujar Anggota DPRD Provinsi Lampung periode 2014-2019 itu.

Almarhum Ismail Komar dimakamkan di TPU Perumahan Graha Madu Pesona Tanjungseneng Bandarlampung. Tampak turut mengikuti pemakaman, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung, Wira Hadi Kusumah, Dewan Penasehat PWI Lampung Supriyadi Alfian, S.H., GM Radar Lamteng I Gede Putu Kristanto, S.Sos., M.M., dan jajaran, Ketua Umum DPW PKS Lampung Ahmad Mufti Salim, mantan Bupati Lampung Selatan Wendi Melva, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Kepala Diskominfo Pemprov Lampung Ganjar Jationo, S.E., M.AP., mantan karyawan PT GMP Hapris Jawodo, dan beberapa tokoh pimpinan perusahaan media massa. Hingga Selasa petang, karangan bunga ucapan duka cita dari berbagai kalangan terus mengalir memenuhi pelataran rumah duka.
Selamat jalan Bang Iskom, sosok pemimpin, sekaligus abang, guru, dan senior kami. Semoga engkau senantiasa berbahagia di surgaNya. Meski engkau telah tiada, semoga kami tak pernah melupakanmu. Karena “orang mati tak pernah mati bagi kita, sampai kita melupakan mereka” (George Eliot). (ayp/gde/rnn)



















Discussion about this post