Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN RIL,
Mia Selvina, S.E., M.S.Ak.
MESKI berprofesi sebagai dosen dengan penghasilan tetap, Mia Selvina, S.E., M.S.Ak. juga masih aktif menjadi penggiat finansial multisektoral. Atas kapabilitas dan dedikasinya itu, maka sangat tepat Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) mempercayakan Mia Selvina menjadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Bagaimanakah sosok Mia Selvina mengimplementasikan kecintaannya pada bidang literasi keuangan dengan disiplin-disiplin ilmunya kepada para mahasiswa dan bagaimana persepsinya soal Tri Dharma Perguruan Tinggi? Berikut tulisannya.
Penulis: Mia Selvina, Editor: A. Yogy/translampung.id
Siapa sangka di tengah kesibukannya menjadi Dosen FEBI UIN RIL, dosen cantik kelahiran Bandarlampung 25 Juni 1989 itu, bisa me-manage waktunya sedemikian rupa hingga memberikan income tambahan untuknya. Bisa dibilang, Mia Selvina adalah sosok wanita tangguh di kehidupan nyata. Bukan hanya ada di cerita fiksi.
Di sela padatnya rutinitas sebagai dosen, lulusan S1 Akuntansi Universitas Lampung itu mengaku menjadi penggiat finansial literasi dengan menjadi narasumber podcast ARadio Lampung. Selain itu, ia menjadi penggerak program edukasi keuangan petani lada Tanggamus, di bawah PT. Mitra Agro Usaha Perkebunan.
“Saya juga sebagai konsultan keuangan keluarga FamilyLab. Meski masih wacana, saya sekarang sedang mempersiapkan bisnis Mentari Daycare. Rencananya dibuka Juli mendatang. Dan kini berkesempatan mengisi rubrik di media online translampung.id,” ujar Mia Selvina.
Saat ini, kata dia, UIN RIL memberinya tugas mengampu beberapa mata kuliah. Antara lain Pengantar Akuntansi, Sistem Informasi Akuntansi, serta Sistem Pengendalian Manajemen dan Teori Akuntansi.
Dosen berparas manis itu mengaku, sejak awal dirinya masuk sebagai dosen di UIN Raden Intan Lampung melalui jalur CPNS Dosen Asisten Ahli Sistem Informasi Akuntansi.
Soal cara mengajar, menurut Mia, dirinya punya cara yang sedikit berbeda dibandingkan dosen pada umumnya. Sebab dia kerap menyisipkan project student based learning dan studi kasus untuk metode perkuliahan. Metode itu dia gunakan, karena dia percaya bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik.
“Sehingga ketika mahasiswa belajar dari pengalamannya ketika mengerjakan sebuah project, maka ilmu yang diserap akan lebih banyak dan lebih diingat oleh mahasiswa,” tutur alumnus S2 Ilmu Akuntansi Universitas Indonesia itu.
Beberapa metode mengajar yang menarik itu, Mia dapatkan ketika dia bergabung dengan dosen pembelajar di seluruh Indonesia dalam kegiatan Inspiring Lecturer Paragon. Kemudian metode-metode mengajar yang dia dapatkan pada kegiatan itu, ia rangkum dalam Buku Antalogi Inspiring Lecturer by Paragon.
“Buku itu saya tulis bersama rekan–rekan dosen di program ini. Namun memang perkuliahan daring (online) akibat pandemi, menyebabkan metode ini kurang berjalan mulus. Namun cukup memberikan pengalaman baru bagi para mahasiswa,” ungkap Mia Selvina.
Kemampuannya mengajar sebagai dosen, sangat didukung oleh pengalaman dan jam terbangnya. Apalagi Mia sudah mengajar sejak umur 18 tahun di suatu lembaga kursus Bahasa Inggris.
Sebagai dosen di era 4.0 ini, Mia Selvina mengakui harus mampu mengajar sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh lembaga. Tak hanya itu, juga harus mampu mengajar di berbagai level kelas. Sehingga harus bisa menghadapi siswa, mulai dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, bahkan hingga perguruan tinggi.
“Saya juga pernah bekerja di sebuah televisi. Di situlah saya mengasah kemampuan saya untuk bisa menyampaikan informasi dengan menarik dan mudah dimengerti,” kenangnya saat mahasiswa.
Afinitas Mia Selvina pada literasi keuangan, ternyata tak muncul begitu saja. Namun lahir dari sebuah pengalaman pribadi kehidupannya dan dari melihat fenomena pengelolaan keuangan rekan-rekan sejawatnya.
Saat menjadi mahasiswa, Mia berkisah, aktivitasnya cukup padat. Pagi sampai siang dia kuliah. Lalu sore sampai malam bekerja sebagai tenaga pengajar part time. Menurut Mia, pada masa itu, tidak banyak mahasiswa yang kuliah sambil bekerja.
“Sementara saya juga perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan kuliah saya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan manajemen waktu dan manajemen keuangan sangat dibutuhkan untuk menjaga keteraturan dan keseimbangan dalam hidup dan keberhasilan untuk menggapai cita,” ujar Mia.
Dia menceritakan, ketika menjadi mahasiswa dia ingin bisa membeli kendaraan sendiri. Dan saat itu mindset-nya sudah terpola untuk bagaimana caranya dia punya investasi. Lantas pilihan investasi Mia jatuhkan pada logam mulia.
“Bukan karena gaji part time saya besar. Tetapi karena saya merasa butuh kendaraan bermotor dan mulai memikirkan masa depan dengan berinvestasi,” kata Anggota Organisasi Mata Garuda Lampung (Penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) itu.
Pada saat itu, dia melanjutkan, sosialisasi tentang investasi, apalagi investasi emas, gaungnya di tengah masyarakat belum semasif sekarang.
“Suatu hari, saya izin keluar kantor dengan manajer saya untuk membayar logam mulia yang saya beli dengan cicilan tiap bulan. Manajer saya kaget dan merasa malu. Karena beliau sudah lebih dewasa dan lebih besar penghasilannya namun tidak memiliki investasi apapun. Alhamdulillah, sampai saat ini (investasi) logam mulia tersebut sudah banyak ‘menolong’ saya ketika kondisi keuangan saya tidak dalam keadaan baik dan return investasi sampai hari ini sudah hampir mencapai 100 persen,” tutur Mia mengisahkan perjalanan rintisan investasinya.
Anggota Organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah Provinsi Lampung itu sangat percaya, bahwa hidup ini akan lebih bahagia ketika bisa berbagi. Berbagi tidak harus dengan rezeki berupa uang, tetapi bisa dengan ilmu dan tenaga.
Mia mengaku mendapatkan kebahagiaan tersendiri sebagai dosen. Sebab punya banyak kesempatan berbagi ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan. Tugas dosen, bagi Mia tidak hanya mengajar. Tetapi juga Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari: pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
“Jadi kegiatan berbagi ilmu yang saya lakukan, tidak hanya untuk mahasiswa. Tetapi juga untuk masyarakat. Katanya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Maka kebermanfaatan ini yang ingin saya kumpulkan untuk menjadi amal yang bisa saya bawa sampai akhirat,” harap Mia.
Pernah suatu ketika, ia mengisahkan, dirinya terharu karena bahagia saat mahasiswanya dulu memberi kabar bahwa ia telah bekerja. Mahasiswa itu juga berterima kasih atas pesan yang Mia sampaikan saat dulu ia menjadi dosen dari mahasiswa tersebut.
“Menjadi dosen memang bukan hanya sekedar menyampaikan materi, tetapi juga mendidik. Maka saya sering menyisipkan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan ketika mengajar. Oleh karena itu, dengan berbagi melalui tulisan ini, saya harap ada pembaca yang tergerak dan mulai peduli, untuk mengelola keuangan pribadi sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah klasik dalam hidup,” tandas Mia Selvina. (*)
Nama: Mia Selvina, S.E., M.S.Ak.
Tempat, Tanggal Lahir: Bandarlampung, 25 Juni 1989
Riwayat Pendidikan:
S1 Akuntansi Universitas Lampung (lulus tahun 2013)
S2 Ilmu Akuntansi Universitas Indonesia (lulus tahun 2016)
Organisasi:
Mata Garuda Lampung (Penerima Beasiswa LPDP)
Masyarakat Ekonomi Syariah Provinsi Lampung
Ikatan Alumni (ILUNI) Universitas Indonesia Provinsi Lampung

















Discussion about this post